Selamat datang September...
Mulai hari ini, aku pakai alamat baru ya. Setelah sekian lama.
Aku ingat dulu, blog ini adalah buatan dari Mas Rini. Aku minta tolong dia untuk bantuin aku bikin blog karena tugas sekolah waktu kelas 1 SMA. Maklum aku gaptek (antara gaptek atau pemalas). Beberapa postingan lama juga sudah aku hapus. Ya, postingan alay. Haha. Bukan, bukan tentang percintaan tapi soal unek-unek dan pendapat pribadi. Sama seperti sekarang. Hanya saja, postingan lamaku menggunakan bahasa yang kurang baik dan sulit dibaca. Kebanyakan wagu-nya. Alamat baru ini merujuk pada nama beken-ku. InShaa Allah mulai aktif menulis lagi. Butuh tempat sampah sih. Soalnya kalau cari pendengar susah. Kasihan yang jadi kupingku kalau harus dengerin semua ocehan nggak jelasku.
Oiya, bicara soal Mas Rini. Beberapa hari lalu dia menikah. Khah! Kenapa khah? Dia sama sekali nggak kasih kabar. Baik personal ataupun di grup. Menyebalkan bukan? Katanya sih memang "sembunyi-sembunyi" tapi kok diupdate BBM? Dasar tua-tua labil. Selamat aja. Ditunggu makan-makannya. Karena sudah menikah, tidak bisa leluasa minta dijajanin lagi. Wedi karo bojomu rek, yen jare lagu. Haha. Canda, Mas.
Solo hari ini hujan lagi. Duh, beberapa hari ini hujan terus. Siang panas sih. Jelang sore ke malam, hujan. Aku menulis saat hujan. Ditemani Lagu-lagu dari Bring Me The Horizon. Ah, cah lawas maafkan. Bayangkan saja, dengan santainya hujan deras diluar jendela berkelahi hebat dengan lagu-lagu keras nan aduhai. Lalu ditemani teh anget dan tumpukan lemar-lembar kertas... Skripsi. Ya. Benar.
Sebenarnya aku lagi break ngerjain skripsi nih. Huff. Sebulan progess-nya nothing. Nggak ada yang nyemangatin sih. Haha. Bukan. Lagi tahap bosan aja. Padahal orang tua sudah keluar banyak duit buat sekolah ya? Yasudahlah. Jangan dibahas. Mari membahas soal hujan. Lagi? Nope. Jangan. Terlalu membosankan membahas hujan, lagi dan lagi.
Sama seperti perasaan. Kalau gitu-gitu aja, ya membosankan. Ups.
Kadang aku heran, bagaimana seseorang bisa bertahan dari rasa bosan? Jujur saja, aku sangat teramat mudah bosan. Kecenderunganku untuk cuek akan benar-benar menyebalkan kalau sudah bertemu dengan rasa bosan. Dan sepertinya bosan sedang bertamu dan mengetuk hatiku. Aelah.
Bosanku penat, kata Cinta. Mungkin aku butuh sosok Rangga atau Dilan, seenggaknya sosok seperti itu akan membuat hidupku lebih menarik. Hidupku sedang seperti tumpukan skripsi. Benar-benar membosankan. Tetapi mau-nggak-mau, ya harus dijalanin, diselesaikan. Lembar demi lembar revisi, harus segera dikerjakan. Harus. Tetapi. Hanya saja. Tidak, tidak ada tetapi. Harus.
Kata orang, "keren berani mati". Kalau kataku, itu sama sekali nggak keren. Keren lagi kalau "berani hidup". Karena hidup nggak gampang. Kalau minta gampang, ya nggak usah hidup.
"Hidup kok kaya drama in reality ya, Mas," kataku kala itu kepada Mas Mbul. Fyi, Mas Mbul atau nama aslinya Mas Nanda adalah temanku, dibilang teman juga bukan ding. Bukan teman spesial atau pacar loh. Dia sudah seperti Masku kandung (ya ketemu gedhe). Kapan-kapan aku akan bercerita tentang dia.
"Ya, hidup kan emang drama di kehidupan nyata nyet," katanya.
"Yasudahlah"
"Percaya deh. Suatu saat kamu bakal nemuin sosok itu. Yang bisa bikin deg-degan dan blablabla....,"
"It's okay. Enough. Sleep tight"
Kalau sudah menjalar ke ranah "sensitif" begitu, aku sudah malas membahasnya. Mas Nanda termasuk salah satu manusia langka yang bisa understand me. Bahkan ketika aku benar-benar menyebalkan, sampai-sampai aku sendiri aja bisa bete sama diriku, tapi dia termasuk yang "sangat memaklumi". Haha. Tapi kalau dia sudah membahas hal "seperti itu" rasanya enggan saja. Bosan yang aku maksud bukan berarti harus menjuru ke ranah "begitu" kan? Aku hanya perlu suasana baru. Nggak hanya revisi-dagang-nggobrol sana-sini. Tapi di satu sisi, malas juga membuat lingkaran baru. Lagi malas basa-basi. Padahal dulu aku termasuk ahli berbasa-basi. Entahlah. Kenapa kecuekanku semakin bertambah tebal ya?
Membosankan. Kapan tumpukan skripsi ini selesai? Lembar demi lembarnya terasa tak selesai-selesai. Mungkin Tuhan sedang bertindak sebagai pengujiku? Meski aku bosan, Dia akan selalu menuntut perbaikan? Tuhan selalu punya cara untuk membuat hamba-Nya bingung ya. Di satu sisi, ada keyakinan bahwa Penguji akan selalu berniat dan ingin yang terbaik, tetapi di sisi lain merasa ini how cruel, mengulang-ulang sesuatu, menjadikannya rutinitas yang "dipaksakan", berjuang untuk segera selesai sampai ada ketok tanda tangan lulus. (Sedikit over-acting)
Sebentar, Solo diguyur hujan terus, apa mungkin sebagai penghiburku? Seenggaknya, hujan lebih menghibur daripada tumpukan lembar yang tak kunjung selesai ini. Ya, Tuhan tetap MahaAdil. Egoisnya, Dia selalu menjadi yang Paling MahaTahu diantara ketidaktahuan makhluk-Nya.
Okay, lagu berisik yang aku putar dan suara hujan deras diluar sepertinya mulai mengganggu pikiranku. Aku harus segera tidur. Atau akan ada suara mengetok pintu kamar dan berkata,"Wes bengi, turu! Lagune dipateni"
Okay...
Leave the lights on I'm coming home
It's getting darker but I carry on
The sun won't shine bright, it never did
And when it rains, it fucking pours
But I think I like it
Bring Me The Horizon - Doomed
Tuhan, terima kasih untuk hujannya.
Dan untuk skripsinya, tolong dipermudah saja ya. Revisi tak kunjung selesai, seperti lembarannya yang beranak-pinak. Benar-benar membosankan.
Kalau aku sudah bosan, aku bisa apa? Normal is boring.
Dari musuh kebosanan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar