Rabu, 09 November 2016

Tidak apa-apa untuk merasa (tidak) baik-baik saja

Selamat malam. Musim hujan datang lagi. Hari ini Solo diguyur hujan seharian. Uh, rasanya enggan kemana-mana. Tapi "how can I so lazy?". Entah sudah berapa kali kehujanan. Dasar aku lebih memilih kehujanan daripada menggunakan jas hujan. Biasa love simple. Or I'm just lazy? Haha. Aku hanya berdoa agar tetap sehat saja. Cukup.


"Kamu kurusan, Na," kata temanku kala itu.

"Ha?" Sontak aku kaget. Aku tak pernah bermaksud diet atau menjadi kurus. Yakalik. Badan udah pendek, ditambah kurus. Isoh kabur kanginan yen jare wong jowo.

"Mbok mangan" (makan gitu loh)

Memang aku sering lupa makan. Ibuku sering ngomel gara-gara kebiasaan tidak sehat itu. Tapi aku benar-benar nggak kepikiran kalau bakal jadi kurus gara-gara kecerobohan dan kebodohanku.

"Kakehan pikiran yo?" (stres) ujarnya lagi.

Lalu kusambut dengan senyuman. Sebenarnya aku tidak stres. Sungguh. Ada satu hal yang mengganjal saja, yang kupikirkan, dan menggangguku. Selalu.

Sejujurnya aku sedang tidak baik-baik saja. Hanya saja aku benar-benar malas memikirkan itu. 

Ya, malas. Aku sudah muak rasanya. Kacau. Rasanya ingin aku buang hal itu, lalu aku berlari sekencang-kencangnya menjauhinya. Tapi layaknya virus yang selalu menyebar dan mengganggu. Nakal sekali. Sudah terlanjur menjadi bagian hidupku dan bagaimana mungkin menolak yang sudah ditakdirkan untukku? Sama saja mengutuk keputusan Tuhan. 

Mungkin karena beberapa hari yang lalu aku curhat ke Mbak Nurul. Fyi, Mbak Nurul is like my sister. Bukan kandung sih, tapi sudah aku anggap kakak perempuanku. Halah. Kami berbicara tentang bagaimana memaafkan itu sulit. Bahkan ketika kami tahu bahwa kebencian itu tidak baik dan dosa. Tetapi tak semudah membuat kata-kata bijak, menerapkan dan mejalankan quote bijak itu sulit. Benar-benar sulit.

Sepertinya aku bukan manusia pemaaf. Walaupun aku tahu itu salah. Walaupun aku tahu itu dosa. Walaupun aku tahu harusnya aku tak bersikap begitu. Entahlah. Padahal aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk memberiku hati yang lapang dan legowo. Mungkin sedang on process. 

Atau mungkin hal itu yang membuatku tidak baik-baik saja?

Aku pintar berpura-pura. Apalagi pura-pura baik-baik saja. Ya terus menerus berpura-pura. Aku tidak tertarik dan malas menceritakan masalahku ke orang lain. Mudah bagiku membuka pertemanan, tapi sulit bagiku untuk benar-benar percaya dan menceritakan ini-itu kepada orang. Itu kenapa Mas Nanda sering menyebutku cuek. Benar. Aku memang tidak mudah menganggap orang lain spesial bagiku. Ya menurutku cukup aku yang spesial. Haha. Bukan. Menurutku bergantung dan percaya pada manusia hanya ilusi. Karena hanya Tuhan sebenar-benarnya tempat bergantung. Itu pula kenapa aku tidak pernah merasa benar-benar dekat seseorang, baik dalam hubungan pertemanan atau yang lainnya. Karena apa? Ya, karena tidak perlu menyespesialkan sesuatu atau seseorang di dunia ini.

Hanya kepada orang tertentu saja. Dan mungkin nanti, suatu saat argumenku terpatahkan oleh sesuatu. Bukan omongan, hanya bukti dari tindakan.

Kepada Mbak Nurul dan Mas Nanda saja butuh waktu 7 tahun kami bersama. Setidaknya mereka sekarang menjadi dua orang yang sering aku sambati. Alhamdulillah. Mas Nanda juga sering bilang yang intinya "yen karo cuekmu aku wes katam". Tapi serius aku dan Mas Nanda hanya teman, aku sudah menganggapnya kakak laki-laki. Jadi pas. Aku punya Mbak Nurul sebagai kakak perempuan dan Mas Nanda sebagai kakak laki-laki. Sudah cukup. Atau ada yang lain mau daftar? Hihi.

Keadaan tidak baik atau aku yang tidak baik? Aku heran dengan orang yang mudah menyepelekan keadaan seseorang padahal dia tidak benar-benar tahu keadaan seperti apa yang dialaminya. Bagaimana paham wong nggak hidup sebagai orang itu? Menurutku semua orang punya fase kacau. Seperti kata Fiersa Besari. Tidak apa-apa untuk merasa tidak baik-baik saja. Jadi jangan menghujat apalagi menghakimi. Semua orang punya fase masing-masing. Jangan disamakan.

Aku pernah merasa ditahap paling jatuh dalam hidupku. Bahkan ketika aku tidak tahu tentang itu. Ketika orang sering mengeluh tentang hidupnya, aku hanya tersenyum. Aku pikir itu belum apa-apa. Maafkan aku. Aku tak bermaksud menganggap remeh masalah kalian, hanya cara kalian menghadapi masalah itu yang kekanakan. Mengeluh seolah-olah menjadi manusia paling hancur hidupnya didunia. Padahal Tuhan tak pernah sejahat itu. Lalu kenapa harus mengeluh, mencerca, dan memaki hidup secara berlebihan? Mbok sing tenang.....

Aku juga pernah ditahap berbicara dalam tangis pada Tuhan di sepertiga malam. Bahkan tak sempat berkata. Hanya tangis. Dan aku tahu Tuhan Maha Mengetahui. Ya, Allah Sang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Aku bertanya kenapa? Walaupun aku tahu tidak benar untuk menanyakan keputusan Tuhan dengan kata tanya yang paling kubenci itu. Jawabannya sudah pasti ada dalam Surat Al Insyirah ayat 5-8 yaitu "Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan" sampai diulang dua kali, ayat ke 5 dan ke 6. Bukankan itu sudah pasti? Tidak ada yang benar-benar sulit. Aku mencoba meyakini itu. Allah tidak akan menguji manusia diluar batas, karena pasti ada kemudahan dan pertolongan-Nya disetiap ujian. Jika masih begitu sulit, mungkin manusia yang memperumit atau belum mendekat kepada Pemberi Kemudahan. Mungkin?

Tidak apa-apa untuk merasa tidak baik-baik saja. Nanti juga ada waktunya berlalu. Jika ada indah pada waktunya, memang harus ada hancur pada waktunya. Badai pasti akan berlalu. Hujan seharian yang sedang membasahi Solo kali ini juga pasti akan mereda keesokkan harinya. Kalau bukan besok, mungkin lusa, atau minggu nanti? Pasti reda. Semua ada waktunya. Iya kan?

Aku bukan orang baik. Aku hanya manusia yang mencoba bersikap baik. Jadi aku tak pernah berharap kepada Tuhan untuk memberiku kehidupan yang baik. Karena kehidupan yang baik itu diciptakan dan dicari, bukan meminta.

Jadi, silakan melepaskan topeng dan bernafas. Semua ada waktunya.

Karena tidak apa-apa untuk merasa tidak baik-baik saja.


Cause I'm still breathing
Cause I'm still breathing on my own
(Green Day - Still breathing)


Untuk kalian yang sedang tidak baik-baik saja,
Tetaplah percaya, Allah selalu memudahkan. Sing tenang ya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar