Rabu, 17 Agustus 2016

Perkara Jatuh

Beberapa hari yang lalu, aku jatuh lagi. Ya, untuk kesekian kalinya. 


Aku sendiri bingung, kenapa aku begitu sering jatuh, terutama dari motor. Mungkin karena darah rendah yang suka menghampiri tiba-tiba. Pusing tiba-tiba. Lalu seketika gelap tiba-tiba. Bahkan ketika diatas motor. Kata Ibuku, kalau aku mulai lelah atau pusing seharusnya aku berhenti sejenak, duduk, dan istirahat. Tapi dasar wong ra nggagas, sebelum aku menyadarinya terlanjur “brek!”. Alhamdulillah walau agak sering jatuh, aku masih setrong kok. Alhamdulillah lagi, banyak pangeran yang bersedia menolongku (red: orang pinggir jalan yang masih punya kepedulian). Hi-hi

“Kamu mbok ya olahraga,” kata Ibu di pagi hari.
“Buk….”
“Ya, dasar pemalas”
“Bukan malas ya. Tapi sibuk
Sibuk wopo, wong yo ora duwe yang” (Sibuk apa, pacar aja nggak punya)
Seketika hening menyapa.

Aku bukan nggak mau olahraga. Tapi apa daya, I hate getting sweat. Sweat ya, not sweet. Lagipula gimana mau olahraga, kalau kepanasan terus, bikin pusing. Alhasil cuma sate kambing obatnya.

Mbok ya sekali-kali yen tibo, tibo neng atine wong,” tambahnya. (Intinya kalau jatuh, harusnya jatuh ke hati orang)

Hm. Aku mulai mencium bau kurang sedap. Sepertinya Ibuku lagi getol-getolnya ingin aku punya pasangan. Entah kenapa. Kadang aku betek. Saking seringnya Ibuk bicara soal gituan, rasanya seperti menabur garam diatas luka, perih tjuy. Dijejali pertanyaan seperti itu, seolah-olah kamu sudah berusia tua, mungkin 25+, dimana cerita aku dan dia memang harus menjadi kita, dimana pelaminan menunggumu untuk diarak keliling kampung, dan dimana skripsimu sudah menjadi masa lalu yang penuh perjuangan. Tentu, masa lalu, bukan masa sekarang.

Andai saja, jatuh cinta semudah jatuh dari tangga atau motor. Mungkin aku bisa jadi seorang pujangga hebat, selayaknya Bapak kesayangan Sapardi. Kenapa? Karena orang bilang, jatuh cinta dapat membuat seseorang pandai berpuisi.  Seolah-olah puisi itu berkaitan erat dengan romantisme orang yang sedang jatuh cinta. Sungguh kasihan orang yang berpikiran seperti itu.

Menurutku perkara jatuh, akhirnya sama. Akhirnya sama-sama menderita.
Ya, walaupun aku sendiri belum paham sensasi jatuh untuk “cinta” seperti apa, tapi menurut KBBI begitu. Silakan dicek sendiri.  Kata “jatuh” menurut KBBI, berarti menderita, hancur, sakit, sengsara dan kata siksaan lainnya. Jadi jangan salahkan siapa-siapa, kalau kamu jatuh terus akhirnya sakit. Karena memang seharusnya begitu.
Begitu juga perihal jatuh cinta, atau bahasa beken dari Raisa disebut jatuh hati (sama atau tidaknya, like hell I care ya).

“Kamu salah, aku jatuh cinta sama anu dan menjalin hubungan sama anu baik-baik saja malah cenderung bahagia selalu, lovey-dovey terus,” kata seorang teman kala itu.

Siapa bilang jatuh cinta selalu menderita? Aku cuma bilang, AKHIR-nya menderita. Bukan selalu. Akhir disini entah karena suatu saat kalian putus (ups! sorry) atau karena memang harus berakhir. Seperti salah satu ayat dalam Surat Yassin, yang intinya bercerita tentang semua yang bernyawa akhirnya akan kembali ke pelukan-Nya. Jadi akhirnya sama. Meninggalkan atau ditinggalkan. Lalu? Seharusnya kalian paham maksudku.

----
Intermezzo ya…
Stop! Stop berpikir aku negative thinking. Aku hanya berpendapat saja, dalam hal realistis. Bukan berarti pendapatku berisi kebencian. Karena aku belum selesai berpendapat. Jadi baca baik-baik hingga selesai ya…
----

Karena jatuh tak selalu menderita. 
Hanya berakhir menderita. Berarti jika belum berakhir berarti belum menderita. 
Ha-ha.

Seperti jatuh dari motor. Meski akhirnya sakit, tetapi tak membuat kamu berhenti naik motor kan? Ya, kecuali trauma. Terus mutung-terus wegah motoran-terus ganti numpak tronton.

Sama halnya dengan jatuh cinta, meski “berakhir” sakit tetapi nggak membuat kamu berhenti mencinta kan? Karena kodrat manusia itu tidak dapat hidup tanpa cinta. Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga, begitu lirik lagu dangdut yang tersohor. 

Tuhan, Sang Pemberi Kehidupan saja sangat Pecinta, apalagi manusia ciptaan-Nya. Manusia punya emosi, dimana ada cinta di dalamnya. (Woh)

----
Intermezzo lagi…
Sebelumnya persamakan persepsi dulu. Jatuh “cinta” disini bukan berarti terhadap hanya sebatas dua pasang manusia, berbeda jenis kelamin. Walau contoh awalnya begitu (cerita tentang Ibu) tapi pakai kata “Cinta” dalam arti luas saja. Nanti ndak dibilang curhat. Lelah rasanya, kalau sekarang apa-apa, berpendapat dikit dibilang curhat. Setuju sekali dengan Sujiwotedjo.
----

Justru jika sakit, akan bertambah kuat. Kayak aku. Jatuh berulang kali (dari motor) tapi malah makin setrong. Jadi paham harusnya bertindak seperti apa. Jatuh, leren sejenak. Lalu bangkit lagi. Nggak kapok. Aku masih mau naik motor kemana-mana, lah wong kudune pancen ngono. Kalau punya pacar mah bisa antar jemput. Tinggal SMS,“Yang(kem) jemput, aku capek”. Boro-boro SMS begitu, HP aja isinya Broadcast dagangan. Meski begitu, Alhamdulillah bagi para single, sekarang ada Go-jek Solo jadi bisa deh chat: “Mas, jemput” (mas Go-jek maksudnya).

Karena sakit melulu, datang tangguh kemudian. Sering ditampar, lama-lama juga biasa dengan rasa tamparannya. Banyak yang bilang,“Time can heal everything”. Jarene loh ya tapi yo mbuh yen nggo koe.

Mungkin perlu terbiasa jatuh, sebab ketika jatuh datang lagi, untuk kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya, maka rasa jatuh pun tak akan sesakit yang pertama. Ya, perkara jatuh memang berakhir menderita, tapi tak ada yang benar-benar menderita di dunia ini.
Jika menurutmu, jatuh yang kamu alami begitu menderita, mungkin pikiranmu tentang jatuh perlu kamu perluas. Meskipun kamu terlarut dalam jatuhmu, dunia masih terus berputar, orang-orang masih terus hidup dengan caranya masing-masing, tukang bakpou masih menjajakan bakpou-nya keliling kampung, dan mas burjo masih asyik memasak magelangan untuk pelanggannya. Jadi jika jatuh membuatmu meluncur terlalu jauh, coba beli magelangan. Siapa tahu, magelangan menjadi penolongmu. 

Tidak-tidak. Maksudku jika jatuh membuatmu meluncur terlalu dalam. Rasakan sensasi sakitnya. Biarkan sakit menusuk hingga ke ubun-ubun. Biarkan saja. Tunggu sakitnya membaik. Kalau ingin cepat terbebas dari rasa sakit sih yasudah beli obat penghilang rasa sakit saja. 

Lalu jika tak ada satupun obat yang bisa menyembuhkannya? Mungkin itu yang namanya sakit akibat jatuh cinta. Karena obat sakit jenis ini hanya ada satu yaitu dibalas cinta. Susah. Obatnya tidak bisa dibeli dimanapun.

Aku sendiri tak pernah menyalahkan jatuh. Wajar saja. Setidaknya jika aku jatuh, aku tahu setelahnya mungkin aku bisa lebih tangguh. Memang sulit harus bangkit lagi. Toh sakit jika sudah mencapai batasnya akan meledak. Kemudian mungkin berakhir jadi biasa saja.

Anggap saja, seperti makan nasi. Hanya perlu terbiasa. Tapi ya jangan keseringan jatuh dan jadi langganan saja. Karena jatuh bukan suatu kebutuhan. Apalagi akhirnya sakit.

Lalu bagaimana aku untuk jatuh dalam hal cinta? Hm sebentar. Mungkin nanti ada seseorang disana yang membuatku terperosot jatuh.

Suatu saat. Atau mungkin besok? Yasudah aku pikirkan besok saja.




Untuk siapa saja yang sering jatuh,
makanya hati-hati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar