Hari ini aku akan mulai menulis
lagi. Karena sebuah papan bertuliskan “Resolusi 2016” yang salah satunya berisi
“Mulailah menulis Lagi, Sayang”. (Please don’t think I’m crazy to call me
“Sayang”). Walau tulisan ini sedikit berbau curhat, setidaknya lewat tulisan ini
aku bisa bercerita. Bercerita pada jajaran kata untuk menjadi kalimat, kalimat
menjadi paragraf, hingga paragraf-paragraf itu berubah menjadi sebuah kisah.
Hah, semua orang punya kisah masing-masing jika disambung-sambungkan dapat dijadikan
sebuah naskah film atau sinetron. Hanya saja aku bukan sutradara yang pandai.
Tak tahu ceritaku akan aku mulai dimana dan aku bawa kemana. Kenapa Sutradara?
Karena menurutku, semua orang sutradara dalam hidupnya. Semua orang bisa memilah
dan memilih ingin hidup seperti apa. Terserah. Hanya saja, Tuhan selalu punya
kuasa lebih sebagai Produser. Dia bisa saja memarahimu karena ceritamu
berantakan atau terlalu dibuat-buat. Atau Dia bisa saja berbahagia karena
“uang” pembiayaan produksimu cukup kamu gunakan untuk membuat cerita yang baik.
Atau, Dia bisa meng-cut cerita indahmu semau-Nya. Produser mah bebas. Lalu aku
sedang bermain peran sebagai sutradara yang buruk. Ku biarkan saja arah cerita
yang amburadul ini.
Hari itu, ketika aku tahu bahwa
kepercayaan kepada manusia nyaris mustahil. Hari dimana aku tahu bahwa sebuah
kehidupan tidak selalu seperti yang dibayangkan. Ketika kedewasaan membuatmu
tahu bahwa hidupmu layaknya sinetron stripping
yang belum diketahui akhir ceritanya. Hahaha. Bagaimana mungkin aku bisa
bersikap biasa meski aku tahu ada hal-hal yang tak biasa bersembunyi di
dalamnya? Rasanya kepintaranku berpura-pura tidak dibutuhkan disini. Apalagi
penyakit bawaan sejak lahir yaitu “bertindak cuek” sudah tidak ada lagi atau
mungkin nyaris ada sesuatu yang telah menusuk hingga dinding-dinding kecuekanku
yang kokoh itu hancur? Entahlah.
Jika semua orang suka senja, maka
aku tidak. Aku membencinya. Bukan, bukan karena aku tidak menghargaai
ciptaan-Nya. Hanya saja senja terlalu menyebalkan. Setiap hari langit begitu
cerah, lalu ketika senja datang, dia membawa kegelapan bersamanya. Benar-benar
menyebalkan bukan? Tapi selayaknya senja pula, ada waktu dimana cerah berganti
gelap, lalu gelap berganti cerah kembali. But it’s not easy. Tidak semudah itu
untuk membuat gelap seketika pergi. Semua punya giliran. Dan mungkin senja
sedang membawa gelap dalam hidupku. Ya, giliran gelap hadir dan entah sampai
kapan gelap menyelimuti. Mungkin aku harus bertanya pada Tuhan, tentang waktu
antara siang dan malam, bisakah waktu diantaranya dipercepat? Agar setidaknya,
gelap tak terlalu lama hadir. Aku sudah bosan bermain dengannya. Gelap tidak
asyik. Seperti mimpi buruk. Bahkan ketika matamu terpejam atau terbuka, tidak
ada beda diantaranya.
Aku heran bagaimana sepasang
sejoli selalu menganggap senja itu romantis? Dan ketika aku berpendapat tidak
selamanya senja itu indah dan romantis, mereka berpikir aku aneh. Tak selalu
senja seromantis itu. Sama seperti ketika aku melihat tayangan Hitam Putih
(sebenarnya aku bukan pecinta tayaangan ini, hanya saja kebetulan terkadang
selalu berbekas), yang dalam salah satu episode-nya, Deddy Corbuzier, si
pembawa acara bercerita bagaimana orang selalu merayakan Tahun Baru dengan
gembira, tetapi Deddy tidak berpikir begitu. Dia beranggapan tidak semua hal di
Tahun Baru itu menyenangkan. Deddy kehilangan sosok ayah dalam hidupnya ketika
malam tahun baru. Sejak saat itu dia beranggapan bahwa Tahun Baru bukan sebuah
perayaan tahunan yang selalu bahagia. Sama halnya Deddy, sebagai manusia, aku
punya hak berpendapat berbeda kan? Senja tak selalu indah, menurutku. Sama
halnya seperti hari ulang tahun yang tak selalu harus dirayakan dengan ucapan
dan kegembiraan. Just simple like that. Jika ketidaksukaanku terhadap senja
“disamakan-keadaannya” dengan ketidaksukaan Deddy akan Tahun Baru, itu juga
salah. Aku hanya tidak suka saja. Bagiku, senja selalu mengingatkan pada
hal-hal buruk. Seperti yang aku bilang, senja seperti mimpi buruk. Bahkan
ketika matamu terpejam atau terbuka, tidak ada beda diantaranya. Senja
menghadirkan gelap. Karena setelah senja, malam akan tiba. Secara logika, itu
diterima bukan?
Lalu bagaimana jika Tuhan
mengijinkan aku berbicara pada senja?
Ya, aku harap aku tidak
mengutuknya.
Dari Aku,
manusia pertama pembenci
senja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar