Rabu, 03 Agustus 2016

Senja itu Tidak Asyik

Hari ini aku akan mulai menulis lagi. Karena sebuah papan bertuliskan “Resolusi 2016” yang salah satunya berisi “Mulailah menulis Lagi, Sayang”. (Please don’t think I’m crazy to call me “Sayang”). Walau tulisan ini sedikit berbau curhat, setidaknya lewat tulisan ini aku bisa bercerita. Bercerita pada jajaran kata untuk menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, hingga paragraf-paragraf itu berubah menjadi sebuah kisah. 


Hah, semua orang punya kisah masing-masing jika disambung-sambungkan dapat dijadikan sebuah naskah film atau sinetron. Hanya saja aku bukan sutradara yang pandai. Tak tahu ceritaku akan aku mulai dimana dan aku bawa kemana. Kenapa Sutradara? Karena menurutku, semua orang sutradara dalam hidupnya. Semua orang bisa memilah dan memilih ingin hidup seperti apa. Terserah. Hanya saja, Tuhan selalu punya kuasa lebih sebagai Produser. Dia bisa saja memarahimu karena ceritamu berantakan atau terlalu dibuat-buat. Atau Dia bisa saja berbahagia karena “uang” pembiayaan produksimu cukup kamu gunakan untuk membuat cerita yang baik. Atau, Dia bisa meng-cut cerita indahmu semau-Nya. Produser mah bebas. Lalu aku sedang bermain peran sebagai sutradara yang buruk. Ku biarkan saja arah cerita yang amburadul ini.

Hari itu, ketika aku tahu bahwa kepercayaan kepada manusia nyaris mustahil. Hari dimana aku tahu bahwa sebuah kehidupan tidak selalu seperti yang dibayangkan. Ketika kedewasaan membuatmu tahu bahwa hidupmu layaknya sinetron stripping yang belum diketahui akhir ceritanya. Hahaha. Bagaimana mungkin aku bisa bersikap biasa meski aku tahu ada hal-hal yang tak biasa bersembunyi di dalamnya? Rasanya kepintaranku berpura-pura tidak dibutuhkan disini. Apalagi penyakit bawaan sejak lahir yaitu “bertindak cuek” sudah tidak ada lagi atau mungkin nyaris ada sesuatu yang telah menusuk hingga dinding-dinding kecuekanku yang kokoh itu hancur? Entahlah.

Jika semua orang suka senja, maka aku tidak. Aku membencinya. Bukan, bukan karena aku tidak menghargaai ciptaan-Nya. Hanya saja senja terlalu menyebalkan. Setiap hari langit begitu cerah, lalu ketika senja datang, dia membawa kegelapan bersamanya. Benar-benar menyebalkan bukan? Tapi selayaknya senja pula, ada waktu dimana cerah berganti gelap, lalu gelap berganti cerah kembali. But it’s not easy. Tidak semudah itu untuk membuat gelap seketika pergi. Semua punya giliran. Dan mungkin senja sedang membawa gelap dalam hidupku. Ya, giliran gelap hadir dan entah sampai kapan gelap menyelimuti. Mungkin aku harus bertanya pada Tuhan, tentang waktu antara siang dan malam, bisakah waktu diantaranya dipercepat? Agar setidaknya, gelap tak terlalu lama hadir. Aku sudah bosan bermain dengannya. Gelap tidak asyik. Seperti mimpi buruk. Bahkan ketika matamu terpejam atau terbuka, tidak ada beda diantaranya.

Aku heran bagaimana sepasang sejoli selalu menganggap senja itu romantis? Dan ketika aku berpendapat tidak selamanya senja itu indah dan romantis, mereka berpikir aku aneh. Tak selalu senja seromantis itu. Sama seperti ketika aku melihat tayangan Hitam Putih (sebenarnya aku bukan pecinta tayaangan ini, hanya saja kebetulan terkadang selalu berbekas), yang dalam salah satu episode-nya, Deddy Corbuzier, si pembawa acara bercerita bagaimana orang selalu merayakan Tahun Baru dengan gembira, tetapi Deddy tidak berpikir begitu. Dia beranggapan tidak semua hal di Tahun Baru itu menyenangkan. Deddy kehilangan sosok ayah dalam hidupnya ketika malam tahun baru. Sejak saat itu dia beranggapan bahwa Tahun Baru bukan sebuah perayaan tahunan yang selalu bahagia. Sama halnya Deddy, sebagai manusia, aku punya hak berpendapat berbeda kan? Senja tak selalu indah, menurutku. Sama halnya seperti hari ulang tahun yang tak selalu harus dirayakan dengan ucapan dan kegembiraan. Just simple like that. Jika ketidaksukaanku terhadap senja “disamakan-keadaannya” dengan ketidaksukaan Deddy akan Tahun Baru, itu juga salah. Aku hanya tidak suka saja. Bagiku, senja selalu mengingatkan pada hal-hal buruk. Seperti yang aku bilang, senja seperti mimpi buruk. Bahkan ketika matamu terpejam atau terbuka, tidak ada beda diantaranya. Senja menghadirkan gelap. Karena setelah senja, malam akan tiba. Secara logika, itu diterima bukan?

Lalu bagaimana jika Tuhan mengijinkan aku berbicara pada senja?

Ya, aku harap aku tidak mengutuknya.




Dari Aku,
manusia pertama pembenci senja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar