Minggu, 01 Februari 2015

Bukan Edelweiss

Kata orang,"Januari itu hujan sehari-hari".
Dan hari ini hujan lagi. Terlampau sering hujan hingga beberapa tanaman ibuku tak perlu kusiram. Sebenarnya bukan aku sih yang selalu menyiram tanaman ibuku (you knowlah buat mandi sendiri aja malas-malasan apalagi nyiram tanaman?). Adalah Babe, sang penyelamat tanaman bunda. Tetapi belakangan ini rasanya Babe tak perlu menyiram tanaman kalau hujan mengguyur terus-menerus begini. Kalau masih tetap disiram, mungkin si tanaman misuh-misuh-terus-gumoh-mukok-mukok (red: satu titik dimana tanaman on the way to sakaratul maut).

Jadi ingat waktu aku masih kecil, ibuku suka sekali membeli bermacam-macam tanaman. Dari lidah buaya, kaktus, bunga mawar, hingga tanaman-tanaman lain yang susah sekali kuhafal namanya. Lagi-lagi aku tak hafal benar tanaman apa saja yang ibuku beli ataupun punya. Jangankan nama tanaman, nama teman lama yang tak pernah jumpa saja aku sering lupa -cukup intermezo-nya-. Ibuku selalu bilang,"Tandurane disiram ben ra mati. Koe urip butuh maem, tanduran yo podo butuhe." (Tanaman disiram biar ndak layu. Kamu hidup butuh makan, tanaman juga sama butuhnya). Pesannya sih kena dihati, namun untuk diingat dan dilakukan itu yang susah. Kata babe sih "nyepeleke". Tapi apa boleh buat kan? Apa harus jidatku diisi tulisan reminder tentang hal-hal yang harus kulakukan? Paling aku hanya bisa bilang,"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, bu". So? Masalah selesai.

Karena keteledoranku ini banyak tanaman mati dirumahku. Andai saja keteledoranku dapat berdampak pada jumlah populasi nyamuk dirumah, mungkin lain ceritanya. Bukan malah membasmi tanaman hias bunda, tetapi mungkin aku akan dipuji dan disanjung sekeluarga besar akibat keteledoranku yang dapat membasmi nyamuk dirumah. Lalu di sepanjang jalan terdapat pamflet dengan tulisan "Inna, Si Pembasmi Nyamuk Handal" yang dipasang tak kalah hits-nya dengan iklan "Sedot WC" dan "Biro Jodoh". Kan keren. Hahalakndasmu.

Waktu itu musim kemarau, dimana seharusnya kegiatan menyiram tanaman menjadi hal yang wajib dan haram untuk dilalaikan. Namun lagi-lagi, kenapa harus aku yang menyiram? Akhir ceritanya pun akan sama, yaitu mati. Dikala ibu membeli bunga mawar yang indah dan harum wanginya semerbak setiap hari, selang beberapa hari di rumah, bunga mawar yang aduhai itu pun berakhir naas dengan warna mahkota bunga yang berubah kecoklatan, daun-daun yang mulai berguguran, dan batang yang mulai bengkok seperti wanita tua yang tak bergairah akibat osteoporosis. Sedih.

Nyaris semua tanaman ibuku di musim kemarau berakhir dengan kehilangan semangat hidup tanpa asupan gizi dari sang pemilik. Namun ada hal yang membuatku bingung. Hanya ada satu tanaman yang tetap bertahan hidup dan hijau meskipun tak pernah kusiram. Kaktus, namanya. Aku sebelumnya tak pernah tahu bahwa kaktus memang ditakdirkan untuk dapat hidup tanpa air. Dulu aku merasa itu adalah keajaiban Allah. Keajaiban Allah yang datang untuk anak gadis yang tak mampu menjaga amanah merawat nyawa makhluk ciptaan-Nya yang lain. 

"Benar-benar hebat si kaktus," pikirku. Dan entah sejak kapan, aku mulai menyukai tanaman yang satu ini.

Walaupun kaktus tak berdaun dan tak berbunga cantik seperti mawar, tetapi setidaknya dia dapat terus bertahan hidup meskipun tak ada satupun yang peduli padanya. Kaktus sanggup bertahan meskipun tak ada satupun orang yang memberinya sekedar air setetes untuk akar-akarnya. Gumun toh?

Sayangnya kaktus berduri. Mungkin itu hanya sebagai pelindungnya. Mawarpun berduri juga kan? Meskipun begitu, masih banyak bertebaran pecinta mawar yang berduri itu. Aku tak tahu apakah kaktus termasuk tanaman yang populer di dunia pertanaman, toh aku juga tak pernah belajar tentang tanaman apalagi ahli dibidang itu. Menurutku kaktus cukup menarik. Tanpa daun, tanpa bunga (walau ada beberapa jenis kaktus yang berbunga juga sih). Dengan duri diluar batang dan didalam batang itu pula dia dapat menyimpan air. Dari air didalam batangnya, kaktus dapat bertahan hidup dengan dirinya sendiri tanpa bantuan makhluk lain, termasuk manusia. Bukankah terkadang manusia juga mirip dengan kaktus? Atau mungkin tepatnya kaktus sangat mirip denganmu? Duri diluarmu hanya berfungsi melindungimu dan membuatmu merasa cukup kuat untuk bersikap "sendiri", tanpa air dari manusia lain. Eits, tetapi tunggu bukankah diluar semua itu, kaktus masih butuh hujan? Hehe. 

Tak perlu melangkah jauh ke pegunungan tinggi untuk bertemu bunga abadi Edelweiss, cukup disini, dimusim yang tak menentu, diantara tanaman tak populer lainnya, masih terdapat tanaman yang berusaha terus bertahan tanpa air, kaktus. Aku tak perlu Edelweiss, cukup kaktus saja. Karena akhirnya yang aku tahu, kaktus merupakan satu-satunya tanaman yang cocok untukku. Ya, untukku yang menyebalkan ini.


Without the light in dark
But I feel the deepest emoticons
Through out the fight with mind
I don't care about the lapse
Believe your voice and smiles
I'll be going there with my motion
Blow out the feeling dead
I don't care about the past
(Man with a Mission - Emoticons)



Untuk kamu yang sangat mirip kaktus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar