"Kenapa lebih suka sendiri-an?" tanyanya mengusik.
"Nggak tahu. Lebih mirip seperti kenapa kamu menyukainya padahal menurut orang-orang dia tak baik untukmu. Tak beralasan," jawabku.
"Itu dua hal yang tidak bisa disamakan"
"Kalau begitu kenapa kamu makan ketika lapar? Ya, karena memang seharusnya begitu"
Jawaban setiap jawaban yang terlontar seperti sebuah pembenaran. Pembenaran untuk perilaku yang dianggap "berbeda". Berbeda karena berteman baik dengan "sendiri".
Kamu yang menjadi pusat perhatian, tak akan paham bahwa memahami diri sendiri itu sulit. Bahkan ketika seluruh dunia mencoba mengenalmu, tetapi kamu sendiri tak pernah sekalipun mencoba mengenal dirimu sendiri. Kamu bukan apa yang mereka lihat, kamu adalah apa yang kamu lihat pada dirimu sendiri.
Kamu yang selalu dikelilingi orang-orang hebat, tak akan pula paham. Jika manusia selayaknya lahir ke dunia dalam kesendirian dan akhirnya kematian menjemput dalam kesendirian pula. Awalnya, manusia satu dengan manusia lainnya pun juga begitu, sendiri. Tak saling kenal. Saling asing. Hingga akhirnya mereka menemukan satu ikatan yang membuatnya saling mengenal dan berteman. Tetapi bila menilik kembali pada hakekat manusia, seharusnya mereka paham bahwa ke"sendiri"an sudah melekat pada diri manusia sejak lahir.
Lalu bagaimana dengan sifat sosial manusia? Ia tak bisa bertahan hidup tanpa bantuan orang lain kan?
Sendiri bukan berarti anti sosial. Hanya berusaha melakukan apapun "sendiri" daripada menyerah dan berpasrah pada orang lain. Faktanya, memang manusia tidak dapat bersifat egois dan individualis. Tetapi bukan berarti menopangkan hidup pada manusia lain. Tidak bergantung dengan orang lain atau tidak menggantungkan diri dengan orang lain, itu adalah dua hal yang berbeda.
Ada yang bilang "semakin terlalu berharap atau mengharapkan pada manusia, maka akan semakin besar pula tingkat kekecewaan terhadap manusia itu". Itu kenapa Allah selalu mengingatkan bahwa "Hanya AKU, satu-satunya tempat bergantung". Karena memang terdapat kekuatan yang jauh lebih besar diluar batas kemampuan manusia untuk bersikap sendiri. Kemana kapal akhirnya akan berlabuh jika tak ke pelabuhan jua?
Satu yang sulit dipahami. Jika benar begitu dekatnya antara manusia dan "sendiri", lalu kenapa Allah menciptakan Adam dan Hawa secara bersamaan dan berpasangan? Hanya untuk saling melengkapi ataukah sebagai pembuktian bahwa memang benar tak ada yang benar-benar bernama "sendiri". Manusia pun didalam "kekosongan" tentang kesendiriannya, akan selalu mencari sosok Tuhan dalam dirinya. Tuhan yang paling kuasa diatas apapun. Bahkan diatas kesendiriannya. Lalu apakah Adam dan Hawa adalah wujud nyata upaya Tuhan untuk melakukan pembuktian itu? Pembuktian bahwa memang manusia tidak dapat cukup berteman baik dengan "sendiri".
Sudahlah. Mungkin manusia perlu menjadikan "orang lain" menjadi bagian dari "sendiri"-nya. Sampai akhirnya terbukti bahwa tak cukup hanya berteman baik dengan "sendiri", jika Tuhan saja menciptakan Adam dan Hawa berpasangan. Bukan tercipta secara terpisah sendiri-sendiri.
Untuk kamu yang berteman baik dengan sendiri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar