Senin, 19 Januari 2015

Tikus dalam Ember Air

Solo kembali kedatangan tamu, yaitu hujan.
Setelah sekian lama, setidaknya beberapa bulan tidak turun hujan. Kurasa hujan ngambek karena saking seringnya dihujat orang,"hateseh malah udan, ra gawa mantol" (*sensor* malah hujan, nggak bawa jas hujan) dan kalimat sambatan lainnya. Mungkin aku salah satunya. Terutama ketika mau main atau jemput adik langsung tiba-tiba "BRESSS". Membuat fisik rasanya enggan pergi meninggalkan rumah dan bertahan di atas kasur.

Oke, memasuki musim liburan semester, sebenarnya aku tak benar-benar liburan. Ketika harus memikirkan magang (walaupun hanya berakhir dalam pikiran), rasanya membuat liburanku tak nyenyak. Ditambah lagi, aku harus "mengurus" adikku (tepatnya keponakan). "Mengurus" dalam artian menjadi nanny. Menjemput sekolah, menyuapi makan, meninabobo, dan sebagainya. "Nyicil jadi ibu", kata ibuku. Are you kidding me, mom? Sebenarnya pertengahan Desember, aku berencana ke Jakarta. Tapi lagi-lagi berakhir dengan wacana hanya karena tugas yang menghajar hingga babak belur sampai akhir tahun. Lalu memasuki Januari ini, aku malah harus memasuki musim menjadi ibu. Bukan beranak ataupun melahirkan. Hanya saja, ah sudahlah.

"Mbak, ada tikus nyemplung ember!!", kata Balqis, adikku (red: ponakanku). Sedikit penjelasan saja, seharusnya Balqis memanggilku dengan tante, tapi kuharamkan sebutan tersebut. Kularang keras dia memanggilku dengan sebutan itu. I'm not old lady, right? 

"Biarin", kataku singkat. Sedikit penjelasan lagi, kecuekanku memang berasal dari orok. Tak memandang objek yang dicuekin, baik status maupun kasta.  

"Tapi aku takut, mbak. Nggilanik" jawabnya.

"Mbok pikir aku ora?"

"Loh, lah terus piye?"

"Yowes ra piye-piye. Kalau mau ke kamar mandi tapi takut ya nggak usah dilihat. Nunggu Mbah Kung pulang. Gampang toh?"

Waktu itupun aku melihat si tikus yang mengambang dan terdiam tak bergerak. Sudah mati, pikirku. Tapi ketika kudekati. Etdah, malah gerak. Waduh mungkin aku dan si tikus memiliki chemistry. Ketika aku mendekat dan menatap, kemudian jantung si tikus berdetak dan kembali hidup. Seperti dongeng pangeran katak. Hanya saja tak berarti si tikus dan aku berciuman. Yakali, kucium tikus maka jodoh kudapat? Lah kok penak men.

Sepertinya si tikus butuh bantuan, tapi..... like hell I care.

Sementara kucuekin si tikus, layaknya kecuekanku sama kamu (halah pokik). Mungkin dia harus berjuang dan bertahan hidup sendiri diantara besarnya arus air di ember. Tak beberapa lama, setelah kutinggal, aku kembali ke kamar mandi dan tak sengaja kulihat (lagi) si tikus di dalam ember. Dan masih hidup. Antara nggak tega dan jijik. Kuputar cara bagaimana menolongnya tanpa harus menyentuh tubuhnya yang licin dan bergelembir.

Aku lempar gayung ke ember yang ada tikusnya itu. Berharap si tikus paham dengan maksudku, berharap si tikus berubah menjadi perenang handal yang kemudian selamat dengan berenang dan merangkak ke dalam gayung. "Fighting, kus! Kamu bisa!", Teriakku sambil melempar gayung ke ember (yen iki jane yora tenan tak ucapke, hapo aku edan?)

Entah hantu mana yang merasukiku dengan pikiran bodoh bak Raditya Dika. "Ya, setidaknya aku tak berpangku tangan melihatnya berjuang", kataku. Entah kenapa pula, aku berasa jadi Tim SAR yang berusaha menyelamatkan si tikus. Tim SAR yang melemparkan gayung ke dalam ember karena takut dengan tikus.

Menjelang sore. Aku sengaja ke kamar mandi dan kulihat ember. Tikuspun lenyap. Entah bagaimana caranya, mungkin si tikus paham dengan maksudku. Mungkin dia berenang ke gayung, menepi, dan kemudian selamat. Si tikus yang bebas lalu berlari dengan riangnya menuju rumah dan kembali berkumpul dengan keluarganya. Betapa hebatnya aku, sungguh. Terlepas dari segala kesombonganku, yang terpenting adalah aku menyelamatkan nyawanya. Yo pora?

Aku kembali berpikir.

Haruskah hidup seperti si tikus? Tak pernah berhenti berjuang, meski ia tahu perjuangannya mungkin akan gagal. Dengan berusaha berenang terus-menerus, meski ia tahu bahwa tikus memang diciptakan tak dapat berenang. Tikus bukan hewan amfibi kan? Tikus hanya berakhir dengan tenggelam jika bertemu dengan air kan? Tapi kenapa ia harus terus berusaha berenang di dalam air? Kenapa ia tak menyerah dan tenggelam saja? Padahal ia sadar bahwa akhirnyapun mungkin gagal dan tenggelam juga. Aneh.

Mungkin jawabannya adalah pada ketakutannya akan air. Ketakutan itu yang membuatnya untuk terus berenang dan ingin bebas. Pada dasarnya manusiapun takut gagal kan? Seharusnya ketakutan itu yang membuatnya kuat dan terus berusaha, bukan malah sebaliknya. Ya kan? Seperti si tikus. Dia paham, mungkin ujungnya dia hanya berakhir dengan mati tenggelam. Tapi setidaknya ia tetap berusaha berjuang kan? Ya setidaknya sampai akhir ia berjuang. Meski logikanya berkata,"Itu nggak mungkin". Tapi who knows about the end? Faktanya, perasaan saja dapat mengalahkan logika. Lalu apa dengan berjuang, logika tak dapat dikalahkan juga? Diluar semuanya, ada "tangan-tangan" lain yang dapat membantu dan mematahkan logika. Mungkin berwujud sebuah gayung yang kulemparkan tadi. Hanya sebuah gayung tapi dapat menyelematkan hidup si tikus kan? Ternyata hal yang disepelekan, siapa tahu menjadi penolong nantinya. Oh maaf, bukan bermaksud membanggakan tindakan, neng kenyataane ngonoi terus piye? Haha. 

Intinya sih, logika dapat dengan mudah membuat putus asa. Anggap saja logika hanya sebuah titik diatas kertas putih. Terlihat jelas, namun dengan kejelasannya tersebut, kita malah mengabaikan kertas putih yang begitu luas.

Kadang manusia hanya perlu menutup telinga agar dapat melihat lebih jelas dengan matanya. Tanpa mendengar suara yang mengganggu. 
Tanpa merusak penglihatan yang sebenarnya. 
Tanpa penafsiran lain yang berasal dari telingannya.
Ya bukankah mata si pemegang penglihatan terbesar?


Salah satu lagu yang membuatku merinding setiap mendengarkannya. Ditambah dengan membayangkan MV-nya. Selamat mendengarkan The Script - Superheroes. 
Mari jadi Superhero untuk hidup!

All his lies he's been told
He'll be nothing when he's old
All the kicks and all the blows
He will never let it show
Cause he's stronger than you know
a heart of steel starts to grow

Tidak ada komentar:

Posting Komentar