Selasa, 23 Desember 2014

Musim Tidak Enak

Lagi-lagi pikiranku melayang. Kuijinkan dia berputar-putar hingga aku tak sanggup menangkapnya, hingga dia lelah dan berhenti dengan sendirinya. 


"Kau  berpikir tentang apa?" Entah. Hanya itu saja jawabanku. Pikiranku, tak mudah ditebak apalagi dimengerti. Jika aku dapat berbicara dengannya mungkin aku akan gila. Dia layaknya anak kecil yang susah untuk diajak berbicara, bertingkah semaunya, dan aku lelah untuk mengikutinya. 

Aku hanya ingin duduk sambil melihatnya berlarian hingga letih menghampirinya dan membuatnya kembali duduk bersamaku. Tapi itu kapan? Rasanya memaksanya duduk dan diam itu tak mungkin, tetapi menunggunya berhenti juga nyaris membuatku bosan. Aku benar-benar mudah bosan. Bahkan dengan pikiranku sendiri.

Memang sulit untuk membuat pikiran menurut sedikit saja. Dia senang bermain-main dan membuang waktuku, padahal aku tak punya banyak waktu bermain dengannya. Aku mulai muak. Apa perlu aku membelikannya mainan seperti anak kecil? Mengingat tingkahnya yang tak jauh beda seperti anak kecil.

Lalu mungkin kalian bertanya,"Dimana si hati?" Aku tak ingat dimana meletakannya. Mungkin dia bersembunyi dibalik pepohonan, sambil mengamati si pikiran bermain. Atau mungkin dia telah berubah menjadi bayangan di pikiran? Entahlah. 

Si hati pernah memaksa si pikiran berhenti bermain, tetapi lagi-lagi si pikiran susah dikendalikan. Lalu dia menyerah dan pergi.

Rasanya aku ingin memanggil si hati,"Hei, kesini!" Aku ingin si hati menemaniku duduk dan menunggu si pikiran. Setidaknya menunggu berdua tak seburuk menunggu sendirian kan?

Kupikir si hati hanya bersembunyi untuk mencari cara bagaimana membuat pikiran berhenti dan menurut padaku. Iya, hati tak terlalu kekanakan seperti pikiran kan?

Hanya saja, ketika hati diluar batasnya, mungkin dia akan keluar dan memaki si pikiran. Meskipun hati tak kekanakan, ada titik dimana dia jauh lebih sulit dikendalikan daripada si pikiran. 

Hati itu sangat liar. Hingga emosinya dapat membuat si pikiran menyerah. Tapi haruskah aku menunggu hati sampai pada titik batasnya? Itu jauh lebih melelahkan dan membosankan daripada menunggu si pikiran diam. Karena seperti yang kukatakan tadi, hati itu liar.

Sudahlah. Aku tak ingin bermain dengan pikiran maupun hati. Biarkan mereka bermain dengan caranya sendiri.

Hai, Pikiran! Jika kamu sudah lelah berlari, duduklah disini. Setidaknya dengan duduk, akan membuatmu lebih tenang. Dan kau, Hati. Jika kamu sudah lelah bersembunyi, ikutlah duduk disini juga. Bangku ini terlalu lebar, jika hanya aku yang duduk disini...

...dan itu membuatku tidak nyaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar