Minggu, 23 November 2014

Cerita Seorang Tuli

Selamat malam. Jelang akhir November, rasanya sudah berbulan-bulan aku tak menulis. Rasanya ada banyak cerita, namun terlalu susah untuk diceritakan. Halah.


Malam ini Solo tidak hujan, tumben. Aku mengendarai motorku sekencangnya karena jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Waktu dimana cinderalla harus kembali menjadi upik abu dan mengubur kebebasannya. Setelah menonton Dialog Dini Hari (band kesukaanku) ada sedikit rasa senang, namun selebihnya hanya rasa cemas untuk sampai di rumah. "Anak perempuan harusnya nggak pulang malam-malam" begitu katanya. Ah sudahlah. 


Tiba-tiba aku teringat seseorang. Aku akan bercerita tentang seorang tuli. Aku mengenal seorang tuli. Awalnya ia adalah seseorang yang terlahir "normal" namun entah kenapa, setelah suatu kejadian, ia (terpaksa) merelakan pendengarannya. Sayangnya, kejadian itu terjadi ketika ia masih balita, ketika dimana seharusnya ia mulai mengenal dunia dan isinya. Ketika seharusnya ia dapat mendengar gelak tawa maupun tangisannya sendiri. Dan "ketika seharusnya...", "ketika seharusnya..." lainnya. "Seharusnya" yang ia dapat, menjadi hal yang berakhir "kosong".

Ia tumbuh menjadi anak yang bahkan tak mengenal huruf, bahasa, dan alat komunikasi lainnya. Ya, karena ia dianggap tak dapat mempelajari itu. Ya, karena ia tuli. Pikiran bodoh yang masih dipegang saat itu atau mungkin hingga saat ini. Namun ia berusaha kuat dan tak terlihat "berbeda". Padahal sejatinya manusia terlahir "berbeda" satu sama lain dan tak sepantasnya ia bersikap "sama" dengan yang lainnya. Kehidupannya begitu sulit dengan stigma dimana tuli adalah ketidaknormalan, ketidaknormalan yang berujung keterbatasan. Aneh kan? Bukankah manusia memang terlahir dengan keterbatasan? Lalu kenapa tuli yang berketerbatasan pendengaran disebut tidak normal? Bodoh.

"Mau belajar apa?" Pikiran orang saat itu yang menganggap tuli tak butuh sekolah. Rasanya ingin memaki orang yang berpikiran seperti itu. Tuli juga manusia. Manusia yang butuh bersosialisasi, butuh teman, dan butuh pengobat rasa sepi. Jika hal tersebut tak didapat di lingkungan sekitarnya, maka setidaknya ia mendapatkan hal tersebut di sekolahnya. Setidaknya di lingkungan dimana ia merasa dipandang "sama", tanpa tatapan sinis dan meremehkan.

Mungkin ia telah kebal dengan cacian maupun cemooh yang menganggapnya "berbeda", hingga cara pandang orang terhadapnya pun terasa dingin dan memuakkan. Tetapi ada satu hal yang tak mungkin ia dapat pungkiri rasa sakitnya, yaitu sepi. Merasa sepi bukan karena ia tak dapat mendengar, tetapi sepi ketika semua orang menjauhinya atau setidaknya ketika orang merasa sulit berkomunikasi dengannya. Orang cenderung akan menghindari berkomunikasi dengannya karena menganggap itu menyulitkan. Ya, berkomunikasi secara verbal. Manusia yang dapat berkomunikasi secara verbal saja masih saling sulit memahami, apalagi ketika salah satunya tidak dapat berkomunikasi secara verbal? Kenyataan yang sering terjadi adalah mereka mendengar, tetapi tak memahami.

Hanya satu yang dirasa, sepi. Ia tak mengenal kepedulian, ketika ia sendiri merasa tak dipedulikan. Ia tak mengenal bahagia, ketika ia sendiri tak dipertemukan dengan kebahagiaan. Dan ia tak mengenal cinta, ketika ia sendiri tak merasa dicintai. Sampai akhirnya orang tak mengajarinya apa-apa, kecuali sepi.  Sampai di titik terendah, yang ia rasakan adalah sepi.

Tak ada yang benar-benar benar maupun benar-benar salah. Manusia memiliki persepsinya masing-masing yang memutuskan itu benar maupun salah. Sebelum mengambil keputusan tentang sesuatu, alangkah baiknya melihat bagaimana persepsi orang yang melakukannya. Ini yang sulit. Ada suatu tindakan dari seorang tuli yang dianggap salah, tanpa melihat bagaimana kesalahan itu dapat terjadi. Bagaimana sebelumnya perlakuan orang terhadapnya? Sehingga berdampak pada pemikiran dan tindakannya kemudian. Gaara pernah mengatakan "manusia sejatinya tak akan pernah menang dari rasa kesepian". Itu mengapa seharusnya tak ada yang membenarkan ataupun menyalahkan ketika kita sendiri tak pernah benar-benar peduli pada rasa kesepiannya. Ia bertingkah semaunya karena ia berusaha keluar dari rasa "sepi"-nya, sendirian. Ketika ia tak merasakan bahwa ada yang bernar-benar peduli terhadapnya.

Ketika alunan Dialog Dini Hari - Pelangi terdengar, aku selalu mengingat tuli ini. Tuli yang berusaha menemukan orang yang benar-benar peduli terhadapnya. Tanpa peduli orang menganggapnya benar atau salah. Karena ia terlalu lelah untuk menjadi "sama" dengan mereka yang bahkan tak pernah menyadari bahwa semuanya terlahir "berbeda". Ia terlalu lelah untuk memperdulikan orang yang bahkan tak sedikitpun memperdulikannya. Ia akan tetap menjadi seorang tuli, yang tak mendengar tetapi masih dapat memahami dan merasakan.

Hey Pelangi, warna-warni
Hey Pelangi, gairah suka dihati





Aku belajar banyak dari seorang tuli,
Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar