Selamat malam. Duh. Menulis dengan sedikit deg-degan karena untuk pertama kalinya aku menulis blog dua kali dalam sebulan, malah kurang dari seminggu. Kali ini bahas apa ya? Di Media Sosial sih lagi "hot"-nya Jilbobs. Mau sih bahas itu, tapi males (LAGI?). Oya, aku akan bercerita tentang kisah seseorang lagi aja ya? Dari cerita ini, aku mendapat "tamparan" lagi sekaligus jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku. Pertanyaan tentang apa? Ya, hanya aku dan Allah yang boleh tahu dong. Hehe.
The want you to laugh with you all the way you always
And all the warmth straight its tenderness, such as sunflower
And because I noticed happily that it is here that I also want to deliver in the future
And all the warmth straight its tenderness, such as sunflower
And because I noticed happily that it is here that I also want to deliver in the future
- Himawari no Yakusoku -
Kemarin di kampungku lagi geger alias heboh tentang jatuhnya seorang warga ke rel kereta yang akhirnya meninggal seketika. Buat yang belum tahu aja sih, kampungku terletak di daerah jalur rel kereta api, tepatnya sih sepanjang depan kampungku itu rel kereta api. Lupakan tentang letak geografis kampungku, yang katanya Dita adalah kampung padat penduduk dan tempat berkumpulnya manusia-manusia aneh di bumi ini. Okebaik. Back to topic, orang yang jatuh terpeleset ke rel kereta adalah tetangga dekatku. Ceritanya bermula, ketika sudah hal yang wajar jika di Bulan Agustus diadakan banyak lomba sebagai tanda kemeriahan dalam menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia. Hal itu juga dilakukan oleh para warga kampungku. Hubungannya apa antara meninggalnya tetanggaku dengan lomba Agustus-an?
Tenang, santai, dan kuasai. Baca blogku harus selow dan tak tergesa-gesa, nanti ndak dimarahin mamah kalau serba terburu-buru. Terburu-buru itu menjadi halal hanya ketika kebelet pipis. Cukup intermezo-nya, cerita berlanjut ketika kemarin sore diadakan lomba futsal bapak-bapak. Aku menyebutnya Futsal Tetak, karena para pemain harus memakai sarung ketika bermain futsal, ya kaya orang abis tetak alias kitanan. Oke kali ini aku wagu. Hampir seluruh warga berkumpul dan berpartisipasi dalam lomba tersebut, termasuk orang itu (sebut saja pakdhe). Pakdhe merupakan staff RT jadi hal yang wajib untuk ikut partisipasi lomba walaupun sebelumnya dia mengeluh lelah. Akhirnya Pakdhe pun menjadi wasit pertandingan (karena termasuk panitia lomba).
Pakdhe menjadi wasit dan berdiri di pinggir lapangan (sebenarnya bukan lapangan juga sih, wong futsal diadakan di jalan kampung yang lebar). Tapi entah kenapa, ketika babak kedua, Pakdhe berdiri di tempat duduk (bahasa jawanya bok atau lungguhan) yang memang terletak seperti pembatas antara jalan kampung dengan rel kereta dibawahnya. Padahal sudah ada peringatan untuk mengosongkan lungguhan itu karena berbahaya. Gambaran lungguhan yang kumaksud adalah sebagai berikut:
| Photo diatas bukan TKP. Diambil Agustus 2013, tahun lalu. |
(Dari gambaran lungguhan seperti itu, yang dijadikan pijakan berdiri untuk memimpin futsal. Dibawah lungguhan itu adalah rel kereta api).
Jelang malam, lomba futsal belum juga selesai lalu break adzan Maghrib. Disini awal mula kejadian tak terduga itu. Setelah adzan Maghrib, tepatnya menjelang Isya, pertandingan seharusnya selesai. Tapi Pakdhe belum juga meniup peluit yang menandakan berakhirnya pertandingan. Entah melamun atau entah apa. Penonton mulai protes, lalu Pakdhe bertanya sama anak disampingnya.
"Iki wes jam piro, le?" (Ini jam berapa, nak?)
"Sek, Pakdhe. Tak tilikane HPku" (Sebentar, Pakdhe. Aku lihat HP dulu)
Tiba-tiba setelah anak itu melihat HP dan hendak menengok ke arah Pakdhe untuk memberitahu jam, kejadian tak terduga itu terjadi. Pakdhe itu tiba-tiba jatuh (nggeblak) merosot kearah rel kereta. Seketika semua orang yang berada disana heboh dan buru-buru turun untuk menolong Pakdhe. Penanganan cepat pun dilakukan dengan membawa Pakdhe langsung ke Rumah sakit menggunakan mobil seorang warga, tak berselang lama setelah Pakdhe dimasukkan kedalam mobil suara adzan Isya berkumandang.
Parahnya luka di kepala Pakdhe membuatnya tak berdaya. Luka di bagian dalam kepala akibat benturan pada beton aliran air disamping rel kereta api. Dokter lepas tangan dengan mengharapkan keluarganya untuk berdoa. Tapi mungkin Allah berkehendak lain, Pakdhe menghembuskan nafas terakhir malam itu.
Dari kisah ini, aku belajar bahwa hal yang paling dekat dengan manusia adalah kematian. Contohnya yang terjadi pada Pakdhe. Niat ingin bergembira dalam kemeriahan Kemerdekaan RI tak disangka menjadi kejadian miris (ini bukan bahasa jurnalistik loh). Pakdhe masih muda untuk ukuran seorang kepala rumah tangga, dia memiliki dua orang anak yang masih bersekolah. Maka beranggapan bahwa yang tua yang akan mati duluan adalah SALAH BESAR. Ditangan Allah, semua mungkin. Dan seperti memang benar bahwa umur hanya angka.
Sebenarnya aku tak bermaksud bercerita tentang kematian, karena membayangkannya pun aku ngeri. Ilmu dunia dan ilmu agamaku pun belum setinggi itu untuk menggurui tentang kematian dan blablabla-nya. Aku hanya ingin bercerita dibalik kisah Pakdhe itu, dia adalah seorang ayah. Ini yang menjadi tamparanku. Aku tak akan pernah tahu sampai kapan aku akan bersama dengan orangtuaku, Ibu dan Babeku (sebutan ayahku). Apalagi setelah melihat anak Pakdhe yang pertama, yang sering (dianggap) nakal dan bertengkar dengan Pakdhe menjadi begitu terpuruk dengan penyesalan. Bahkan anak lelaki Pakdhe itu tak mau makan dan hanya terduduk atau tiduran di dekat jenazah Pakdhe. Iya, senakal-nakalnya seorang anak, dia hanyalah seorang anak dan akan tetap menjadi seorang anak yang telah lahir melalui hubungan kedua orangtuanya. Aku yakin, hati tak pernah dapat berbohong. Mungkin anak Pakdhe itu menyesal karena waktunya telah habis sebagai seorang anak yang harus membahagiakan ayahnya. Atau mungkin menyesal karena selama hidup ayahnya, hubungan mereka begitu buruk. Untuk menebus itu semua hanya ada satu yang dapat dilakukan seorang anak yaitu mendoakan ayahnya. Semoga Pakdhe mendapat tempat yang baik disisi Allah dan semoga anak pertamanya selalu ingat bahwa amal yang tak akan pernah putus setelah seseorang meninggal, salah satunya adalah doa dari seorang anak.
Maaf, bukan berarti hubunganku dengan orangtuaku seperti kisah diatas. Bukan. Hanya saja itu pembelajaran kan? Munafik jika beranggapan hubungan anak dan orangtua dapat selalu berjalan damai. Adakalanya keegoisan mengalahkan naluri manusia sebagai seorang anak dan orangtua. Allah mungkin sedang menyenthil-ku melalui kejadian itu. Ketika aku mulai menjadi egois dengan keinginan-keinginanku dan tumbuh dengan mengabaikan. Atau bagi kalian mungkin hal itu hanya kebetulan saja kan? Menurutku, seharusnya kita belajar menghargai sesuatu yang sering dianggap "kebetulan", karena sesungguhnya kebetulan itu juga terjadi atas kehendak Allah. Iya kan? Kebetulan tetaplah takdir yang mungkin memiliki jalan lain untuk mengingatkan kita. Entah kita akan sadar atau malah mengingkarinya itu pilihan kita.
Dalam berbagai hal, manusia memiliki keegoisan. Hanya tergantung pada manusia itu sendiri bagaimana dapat meminimalkan keegoisannya. Sebejat-bejatnya seorang anak, kita tetap akan menjadi seorang anak. Begitu pula, sebejat-bejatnya ayah atau ibu, mereka tetap orangtua kita kan? Hubungan orangtua dan anak mungkin seperti simpul yang rumit, yang mengikat, yang sulit terputus, mustahil memutusnya bahkan dengan gunting sekalipun, karena meski sengaja diputuspun maka akan tetap ada "bekas" tentang pernah adanya sebuah simpul yang terjalin. Bingung? Aku juga kok. Intinya mustahil bagi seorang anak dan orangtua untuk saling membenci dan memutuskan hubungan yang sudah terjalin secara alamiah.
Untuk babeku yang tersayang,
Maaf ketika aku belum paham cara tumbuh dewasa, yang benar-benar dewasa
Maaf ketika keegoisan masih ada dengan wujud mengabaikan
Maaf ketika aku lupa bahwa babe tetap seorang ayah,
seorang ayah yang seburuk apapun ucapnya
seburuk apapun lakunya
seburuk apapun itu tak pernah menjadi benar-benar buruk
mungkin hanya terlihat buruk ketika engkau menunjukkannya dengan caramu,
caramu yang berbeda dengan caraku
karena pada dasarnya seorang ayah hanya ingin anaknya hidup bahagia
Dari seorang anak yang tetap seorang anak
Sambil mendengarkan Motohiro Hata - Himawari no Yakusoku
(Qst. Doraemon Stand by Me)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar