Selamat malam untuk kesekian kalinya. Sudah berapa lama kira-kira aku menganggurkan blog usang ini? Merasa tertarik lagi setelah beberapa temanku (garis bawah, tebalkan kata "beberapa") menanyakan kelanjutan dan kelangsungan hidup blog ini.
"Ijek sering ngeblog, inn?" (masih suka ngeblog, inn?)
"Loh aku duwe blog toh?" (loh aku punya blog ya?)
Menggelitik. Setelah kupikir tidak ada orang yang mau membaca blog ini (kecuali aku sendiri), ternyata masih ada manusia suwung dan kurang gawean dimuka bumi ini yang mau-maunya membaca tumpukan sampah amburadul ini. Bahkan Mas Rini bilang "Blogmu lebih menarik ketimbang punya Raditya Dika". Hateseh. Pora sajak sangar byat aku wes isoh ngalahi penulis sing followere ngungkuli artis? (Males translate Indonesia, ra ngerti yo salahmu). Nggak mungkinlah se-aduhai itu. Mas Rini mungkin penganut Syahrini-isme, yaitu paham yang menganut (mengartikan) sesuatu secara berlebihan. Bagiku simpel sih, mungkin blog ini kayak semacam gentong. Kecil lubangnya, tapi banyak isinya. Sedikit sekali pembacanya, tapi kalau dibaca wuidih... menakjubkan. Baiklah, cukup pede ketika cuma orangtua dan teman sekelas yang mau bergaul denganku yang udik ini. Terkenal juga buat apa? Nggak bikin kenyang. Padune ncen antisosial.
Skip masalah blog deh, nanti ndak aku kelihatan sibuknya sampai nggak punya waktu nulis (baca: pemalas).
Eh iya, baru seminggu (lebih tiga hari) seluruh umat Muslim di dunia ber-Lebaran-riang-gembira. Kemeriahan Lebaran selalu berbanding lurus dengan sibuknya orang mengirim ucapan "Mohon maaf lahir batin ya. Dari Anu dan keluarga" Bahkan saking banyaknya, aku kewalahan membalas semua ucapan itu, lalu berakhir dengan ucapan yang bertepuk sebelah tangan. Tapi tenang, aku tetap membalas ucapan yang masuk kok. Ya, cuma agak terlambat sih. Itupun juga nggak semua terbalas sih. HAHA. Silahkan lempar lembaran uang padaku!
Sebenarnya nggak ada maksud sombong kok, hanya agak malas sih. AGAK (between sangat dan tidak). Ketika kemeriahan Lebaran bersama keluarga harus dihabiskan dengan memegang gadget untuk membalas semua ucapan yang masuk (tekankan: BANYAK). Sekali-kali egois boleh dong ya?
"Yaelah lebay, bales SMS lamanya berapa jam sih?"
Kalau SMSnya borongan gimana? Kalau misal SMS masuknya pas aku sungkem sama Simbah gimana? HAHA.
"Emang sungkem berapa jam?"
Sungkem sama yang mana dulu? Keluargaku banyak loh. Sudahlah. Toh, akhirnya dibalas kok. Cuma ya telat sih.
"Basi dong?"
Ini yang menyebalkan. Minta maaf itu nggak ada waktu basi woy! Emang Sari Roti pakai kadar expired segala? Lagian aku mudik ditempat yang susah sinyal, nyet! Daripada Lebaran emosi nggak dapat sinyal, mending HP semeleh malah tentrem. Yo-po-ra?
Eh tapi jujur, dasarnya memang malas juga kalau ucapannya cuma hasil foward-an.
"Kok kamu jahat sih? Mereka kan niatnya baik, minta maaf"
Minta maaf dengan cara foward ucapan ya? Duh. Esensi minta maafnya dimana dong?
"Daripada nggak ngucapin hayo?"
Aku juga nggak minta diucapin kok. HAHA.
Menurutku, kalau niatnya memang baik, alangkah baiknya juga nggak diwujudkan dengan ucapan yang CUMA hasil FOWARD kan? Niat baik diwujudkannya jangan setengah-setengah. Kalau niatnya memang "minta maaf lahir batin" ya tindakannya harus nyata, setidaknya nggak cuma foward SMS atau Chat. Maksudnya, apa salahnya sih mengucapkan dengan lebih "fokusing" atau "personal". Misal: Inna, aku minta maaf lahir batin ya. Simpel sih tapi lebih ngena kan? Soalnya si pengirim lebih "fokusing" ke SIAPA orangnya. Nggak cuma ngetik satu kalimat terus langsung dikirim (borongan) ke semua orang. Nanti kalau Allah mau memeriksa ketulusan kita kan susah ya? Ini niat minta maafnya ke siapa? Terus fokusing masalahnya apa? Allah sama malaikat bisa bingung mencatat kebaikan dan ketulusan kita minta maaf loh. Eits, jangan menyepelekan nama ya. Mengingat nama adalah cara sederhana untuk menghargai seseorang. Apalagi dalam hal berbicara atau berucap, menyapa dengan "nama" menurutku lebih ngena dan friendly. Siapa sih yang mau diajak bicara panjang lebar sama orang yang endingnya bilang "Eh iya kamu siapa ya?". Annoying banget. Rasanya kalau ketemu orang seperti itu mau tak timpuk pakai munthu (?). Dari penyebutan dan sapaan menggunakan nama, maka niat dari si pengirim untuk mengucapkan blablabla-nya lebih kelihatan nyata. Iya kan? Pikir lagi. Misal Pandawa punya salah sama Kurawa yang jumlahnya seratus, ya berarti Pandawa seharusnya minta maaf secara personal sebanyak seratus kepada Kurawa (Kenapa contohnya Pandawa dan Kurawa? Apakah ini pertanda Mahabaratha-lovers garis keras? Hanya Tuhan yang Tahu). Mungkin memang arti ketulusan itu harus menghargai proses alias mau repot. Kalau mau yang instan, ya makan indomie goreng rasa ayam bawang saja.
Ya, jangan sampai mengobral maaf. Cukup cinta saja yang bisa diobral (jane yo ojo deng). Kalau maaf saja sudah diobral, maka mulai musnah keikhlasan dibalik kata maaf dan mulai menjamur kata maaf di ladang jamur (?)
Then, ada sedikit cerita lucu soal balasanku ketika orang-orang berbondong-bondong bilang "Mohon Maaf Lahir Batin ya". Ketika temanku mengucapkan kalimat seperti itu, beberapa dari mereka kubalas dengan kalimat "Iya kumaafin kok". Lalu tahu responnya bagaimana? Ada emot cry, ketawa dll. Padahal menurutku itu nggak aneh loh. Sama sekali tidak ada anehnya. Tapi respon mereka kok seperti menyatakan "koe aneh" atau "nggak sopan". Bingung? Mari aku jelaskan. Mereka mengucapkan "Mohon Maaf Lahir Batin" kan? Intinya mereka menyatakan permintaan maaf secara tulus kan? Seharusnya orang yang meminta maaf, ya respon yang baik seharusnya "dimaafkan" kan ya? Iya kan? Lalu anehnya dimana? Masa iya, orang minta maaf, responku malah harus minta maaf balik? Itu lucu kan? HAHA.
"Sumpah koe nganyeli"
Itu kenyatan wey. Bukan berarti aku nggak mau minta maaf. Tapi itu kenyataan kan? Dikala dulu aku masih ingusan, dikala aku masih mengenal pelajaran Bahasa Indonesia, aku belajar tentang pernyataan permintaan (maaf) seharusnya dijawab atau direspon dengan jawaban iya atau tidak (menerima maaf atau tidak). Benar bukan?
Contoh lainnya:
"Dek tolong ambilin minumnya"
"Ambilin minum juga ya"
Lucu? AHAHAHAHAHA.
Harusnya kan jawabannya "iya, Bu" atau "Nggak ah, Bu".
Baiklah. Dari beberapa pernyataanku mengenai Lebaran diatas, jangan langsung disimpulkan betapa nggaplekine menyebalkannya aku. Nggak ada maksud begitu kok. Itu hanya kenyataan yang kadang orang lupa atau mengabaikannya. Makna Lebaran bukan berarti hanya sebatas kalimat menjamur dengan ucapan maaf-maafan, lebih dari itu. Dibalik kalimat menjamur itu, seharusnya ada makna yang lebih dapat dipahami, yaitu keikhlasan. Ikhlas meminta maaf maupun memaafkan. Itu yang sangat sulit. Akupun mungkin belum bisa melakukannya. Menurutku, ikhlas butuh proses. Seperti halnya Lebaran yang merupakan hasil pencapaian dari sebuah proses panjang selama Ramadhan (duh). Hidup butuh proses. Kalau mau instan, ya makan indomie goreng rasa ayam bawang saja. (Oke ini Part dua).
Terlepas dari itu semua, aku Inna Ratna Ramadani (Inna Ayune Renek Sing Madani) mengucapkan Selamat Lebaran ya semua. Misal, aku punya salah, tolong dimaafkan ya. Kalau belum bisa memaafkan, maklumi saja ya. Kalau belum bisa juga? Ya on the way proses memaklumi saja, syukur-syukur on the way proses memaafkan.
"Kok ucapannya nggak secara personal?"
" Lah carane piye nyet?"
Maaf itu bukan kata yang menjamur
Maaf itu bagian dari proses
Jika mudah berucap, bukan berarti mudah dalam keikhlasan
Jika tak berucap, bukan berarti pula tak mencapai keikhlasan
Belajar ikhlas itu sulit tapi tetap harus belajar
Karena sulit bukan berarti tidak mungkin kan?
Dari manusia yang selalu berbuat salah
P.S. Jika ada yang merasa aku punya salah, konfirmasi lewat SMS atau chat saja, biar nanti kita secara personal saja. Ea. Tapi tidak menerima mbribik-membribik ya.
"Kalau nggak ada HP?"
"Besok tak beliin, tapi kamu jangan iyik lagi ya."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar