Sabtu, 05 Juli 2014

Cerita Ibu Peminta-minta

Selamat malam. Maksudku Assalamualaikum Wr. Wb. Hehe.


Rasanya sudah terlalu lama aku mengabaikan blog ini. Seperti biasa, aku memang hobi mengabaikan. Maklumi saja ya. 

Kaulah ibuku cinta kasihku
terima kasihku takkan pernah terhenti
kau bagai matahari yang selalu bersinar
sinari hidupku dengan kehangatanmu

(Hadad Alwi feat Farhan - Ibu)

Bulan Ramadhan, seingatku aku selalu ngeblog ketika Ramadhan datang. Entah, sejenak mencoba menikmati Ramadhan. Kata Pak ustadz "Rasakan kedatangan Ramadhan seperti Ramadhan ini menjadi Ramadhan terakhir bagimu". Aneh ketika belakangan ini aku merasa imanku sedang goyah. Astagfirullah. Semoga kita semua masih diberi kesempatan untuk menunaikan Ramadhan kali ini dengan sebaik-baiknya. Iya, waktunya berlomba-lomba dalam kebaikan.

Beberapa waktu lalu, aku mendapat kabar yang (kurasa) buruk. Einsten bilang "Buruk itu sebenarnya tidak ada, hanya manusia saja yang menamai keburukan ketika (dirasa) tidak adanya kebaikan. Sesungguhnya Tuhan tak pernah menciptakan sesuatu yang buruk". Meskipun Einstein berkata begitu, kurasa aku bukan Nabi ataupun malaikat. Hanya manusia biasa dan tidak munafik adakalanya hidup terasa berat. Sangat berat. Bukan niat curhat, toh aku juga tidak akan bercerita ini-itu. Malas menceritakan ini-itu pada manusia. Manusia itu... ah sudah lupakan. Tidak perlu membahas kehidupan manusia, terlalu rumit.

Disaat merasa hidup begitu berat, rasanya sahabat terbaik adalah mengeluh. Kadang aku sampai muak dengan sambatanku dewe (keluhanku sendiri). Namanya manusia, kurang afdol kalau tidak mengeluh. Panas? Mengeluh. Hujan? Dingin? Mengeluh. Lapar? Mengeluh. Kenyang? Mengeluh. So bad. Sebenarnya orang yang mengeluh dan orang yang mendengar keluhan pasti risih. Coba pikir, bagaimana dengan Tuhan yang setiap detik mendengar keluhan setiap manusia tentang nikmat-Nya? Masya Allah.

Tapi setiap merasa sulit, aku sering mendapat "tamparan" dengan berbagai cara tanpa kusadari. Seperti waktu aku membeli cemilan di sebuah minimarket dekat kampus. Singkat cerita, ketika aku hendak membayar belanjaanku di kasir, ada seorang ibu peminta-minta yang menggendong anaknya. Lalu mbak-mbak kasir memberi uang receh (entah berapa) kepada ibu tersebut. Namun anaknya merengek minta dibelikan sosis sonice yang tersedia di depan kasir. Sang ibu terdiam dan seolah-olah mengisyaratkan "Nak, uang untuk jajanan itu dapat dipakai untuk membeli makananmu nanti". Setelah berdiam beberapa saat, akhirnya Ibu tersebut rela menuruti kehendak anaknya. Walau sedikit ada rasa kecewa diwajahnya. Ketika ibu tersebut hendak membayar, tanpa sadar aku berkata kepada mbak kasir,"Mbak, sekalian sama punya ibu ini ya". Ibu tersebut tampak kaget menatapku. Aku hanya senyum dan berkata,"Pun mboten napa-napa, Bu. Kalih nggen kula sekalian mawon, mboten napa-napa." (nggak apa-apa, Bu. Biar sekalian sama punya saya). Ibu tersebut hanya diam lalu berkata,"Nuwun nggeh mbak". Rasanya sedikit haru. Untuk beberapa orang diluar sana, sekecil apapun nilai uang menjadi begitu berarti. Aku hanya membayangkan bagaimana jika aku adalah anak itu, anak kecil dengan intuisinya ingin ini-itu tapi keinginannya itu hanya dikalahkan keterbatasan. Atau bagaimana jika aku adalah ibu tersebut, mungkin sakit rasanya ketika seorang Ibu harus memikirkan cara untuk tetap hidup sekaligus cara untuk membahagiakan dan menuruti keinginan anaknya. Mungkin cara tafsirku berlebihan bagi kalian tapi aku tak peduli. Bagiku ini adalah cara Allah mengingatkanku untuk bersyukur, melalui sebuah "tamparan" ibu peminta-minta kepadaku. Aku tak mau menyebutnya pengemis, rasanya tidak etis untuk perjuangannya. Aku juga sering dibilang bodoh karena menurut teman-temanku orang seperti ibu itu dan peminta-minta lainnya hanyalah orang yang malas kerja. Tapi terlepas dari semua anggapan itu, aku merasa ketika melihat ibu itu, aku hanya terbayang ibuku.

Cerita diatas, hanya satu diantara ribuan cara Allah mengingatkanku. Aku sering menemui kejadian-kejadian tak sengaja yang membuatku berpikir,"Ah masalahku nggak berat-berat amat kok kalo dibandingkan..." Mungkin membandingkan diri kita dengan orang lain itu buruk, tapi tak ada salahnya jika perbandingan tersebut malah membuat kita berpikir "how lucky I am". Kadang perlu membandingkan diri dengan orang-orang "dibawah" kita, bukan untuk sombong, tapi untuk bersyukur. Bukan malah membandingkan dengan kekayaan, kemewahan, dan kepemilikan orang yang berlebih. Itu malah bikin takabur dan penyakit hati. Ini realita manusia sekarang.

Aku bercerita, tak bermaksud untuk riya'. Aku hanya ingin berbagi. Mengeluh itu percuma. Sulit menghindari keluhan, namun menguranginya bisa kan? :p 


Semoga ibu tersebut dan anaknya selalu dalam lindungan Allah. 
Begitu pula ibu-ibu hebat lainnya. Allah bless them.
Terima kasih untuk semua orang yang mengajarkan betapa 
bersyukur dalam kesulitan itu sangat hebat.


Dan untuk ibuku, 
terima kasih telah memperjuangkanku hingga saat ini. 
Engkau hebat. Aku sungguh menyayangimu.







Dari seorang anak yang begitu menganggumi Ibunya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar