Kamis, 08 Mei 2014

Kisah Secangkir Teh Anget

Selamat malam Jumat. Hiy, malam jumat identik dengan mistis. Tidak, tidak. Aku tidak akan bercerita seram, aku bukan Risa Saraswati. Haha. Belakangan ini Solo panas sekali. Mungkin lagi masanya pergantian musim. Penghujan menuju kemarau. Bukan Solo hawa British lagi, tapi Solo hawa Afrika. Halah.


Cukup merancunya. Ditemani teh anget malam ini, aku akan bercerita. Aku memang suka sekali teh anget (dalam Bahasa Jawa) atau teh panas (dalam Bahasa Indonesia) dan aku lebih suka menyebutnya teh anget sih. Entah kenapa aku menyukai minuman yang satu ini. Sedikit murah(an) memang, tapi bukan berarti harga menentukan rasa di lidah kan? Mungkin bagiku, ada secuil kisah dibalik teh anget.

Dari kecil, aku diasuh oleh sebuah keluarga yang juga tetanggaku. Istilahnya dititipkan, karena orangtuaku bekerja sehari penuh. Keluarga itu yang mengenalkanku pada teh anget. Bapak si kepala keluarga tersebut sangat menyukai teh anget. Setiap hari harus ada teh anget yang tersedia, entah sebagai teman sarapan ataupun sekedar diseduh biasa. Beliau selalu menyeduh teh angetnya dalam cangkir model lama berwarna hijau. Mungkin sekarang cangkir tersebut sudah tidak tren lagi atau bahkan musnah dimakan zaman gelas plastik. Ya, bapak pengasuhku meski lebih tua dari babeku (bapak kandungku) tetapi aku memanggilnya dengan sebutan bapak pula, Pak Man biasa aku memanggilnya.


Beliau adalah salah satu lelaki tersabar yang pernah kutemui. Suami yang pendiam dan manut. Bukan suami takut istri, hanya saja istrinya memang egois dan sangar. Pahamilah, terkadang mengalah lebih baik ketimbang bercekcok tiada akhir. Ya, itu satu hal yang kukagumi dari beliau. Waktu kecil beliau memperlakukanku seperti anak kandungnya, bahkan sampai sekarang ketika aku beranjak dewasa. Kadang perlakuannya pun lebih spesial kepadaku daripada kepada anak-anaknya, ya karena usia anak-anaknya memang lebih tua dariku sih. Haha. Dari kecil aku memang terkenal jahil dan sedikit nakal (hanya sedikit). Tetapi Pak Man sabar mengasuhku. Contoh kecilnya adalah ketika beliau yang selalu menyeduh teh anget, tetapi dengan diam-diam aku yang selalu menghabiskannya. Pak Man tahu itu, tetapi beliau hanya pasrah dan membuat teh anget lagi. Waktu TK beliau juga yang mengantar-jemputku sekolah dan selalu dengan telaten menggandengku pulang sekolah mengingat aku yang sering upyek lari kesana-kemari. Haha.

Waktu terus berjalan, tak terasa aku mulai tumbuh dan Pak Man semakin tua. Aku sering sibuk dengan kehidupanku dan mulai jarang menjenguk Pak Man. Ya, begitulah dampak pertumbuhan memang tak selalu baik. Keegoisan mulai muncul, mengabaikan orang-orang yang begitu penting. Dan aku manusia bodoh itu. Setiap pagi, Pak Man memang selalu mondar-mandir dikampung dan setiap pagi itu pula aku hanya sebatas menyapanya ketika akan berangkat kuliah.

"Ngapain, Pak? Pagi-pagi wira-wiri terus" kataku
"Olahraga, nduk. Mumpung sinar matahari masih bikin sehat" jawabnya.
"Halah, yowes berangkat dulu, Pak"
"Yo, hati-hati"

Ya, hanya sebatas itu. Terkadang jika aku pulang cepat, aku sempatkan menemuinya dirumahnya yang memang tidak jauh dari rumahku. Melihatnya tidur di sofa sambil menonton sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Walaupun aku benci sinetron seperti itu, tapi aku cukup betah dirumahnya. Tentu karena dengan siapa aku menontonnya. Dengan orang-orang yang sudah kuanggap seperti keluargaku.

Sampai ketika kesibukanku membuatku terlena. Pak Man jatuh sakit. Beliau memang sakit-sakitan. Tapi keadaanya mulai memburuk sejak keluarganya memiliki masalah yang cukup berat. Rabu, 24 April aku menjenguknya dirumahnya karena kudengar beliau sudah sakit sejak beberapa hari setelah pemilu. Kulihat Pak Man terbaring di kasur depan TV padahal biasanya beliau tidak suka tidur di kasur. Aku sedih sekaligus marah ketika melihat keadaanya seperti itu tetapi anaknya tidak segera membawanya ke rumah sakit. 

"Aku udah gak kuat, nduk. Sakit banget" katanya
"Tenang, Pak. Ra popo, abis ini kerumah sakit" jawabku.

Aku mulai marah-marah kepada anaknya agar segera membawa Pak Man ke rumah sakit. Akhirnya anaknya pun mau membawanya ke rumah sakit dan segera memanggil becak. Jangan tanya kenapa tidak taksi atau semacamnya, karena disekitar rumahku yang terdekat adalah becak, yang juga tetanggaku sendiri. Kata mboke (panggilanku kepada istrinya) Pak Man sudah beberapa hari enggan makan dan mengeluh sakit. Mboke memintaku mengusap perut Pak Man lalu memintaku membantunya berjalan keluar. Pak Man sulit berdiri, jangankan berdiri untuk bangun dari tempat tidur saja sulit. Aku membantunya bangun dan menggantikan bajunya. Beliau bilang lemas dan tidak kuat. Aku dan tetangga membopongnya lalu mengantarnya ke depan rumah karena becak sudah menunggu untuk mengantarnya ke rumah sakit. Tunggu, kenapa tidak istrinya yang melakukan itu semuanya? Karena istrinya pun sudah sakit-sakitan juga. Waktu aku akan membantunya bangun dari tempat tidur, tak sengaja aku melihat foto yang terpasang di dinding rumahnya. Foto beliau dan istrinya sewaktu masku menikah, aku memotretnya disamping rumah beliau. Entah kenapa saat itu, aku merasa aneh. Merasa bahwa saat itu adalah terakhir kalinya aku dapat bertemu beliau.

Aku tidak dapat mengantarnya ke rumah sakit karena aku ada kuliah. Dan hari itupun aku pulang malam karena ada hal yang tak terduga. Ketika aku dan ibuku ingin menjenguk Pak Man ke rumah sakit, jam besuknya pun telah habis. Alhasil aku tidak dapat menjenguk Pak Man hari itu. Keesokan harinya, aku ada kuliah full dari pagi sampai sore. Selesai kuliah, firasatku buruk dan rasanya enggan pulang. Aku tetap di kampus sampai pukul 16.00 WIB. Sampai rumah, aku mendengar bahwa Pak Man kritis. Aku buru-buru shalat, mandi, dan sebagainya, lalu menjenguknya. Tapi tak berapa lama kemudian, sebelum aku sempat ke rumah sakit, masku mengatakan bahwa Pak Man telah meninggal. 

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Namida wa misenai tte kimi wa sou itte
Bokutachi wa futari tte wo futta
Sayonara wa iwanai dakara te wo futta
Yuuyake ni kieta I remember you


Bahkan sampai detik ini, aku masih ingat ketika terakhir kali aku melihat jasadmu terbujur kaku memasuki ambulan dikala senja.

Ada asa yang tak kunjung hadir. Ada sesal yang tak kunjung usai. Aku tak tahu, meskipun kita tak sedarah tetapi engkau sudah seperti Bapakku sendiri. Semua menjadi tak penting ketika aku hanya butuh engkau ada. Sekarang sakitmu telah usai. Semoga usai. Aku tahu, engkau orang baik. Sangat baik karena menjaga dan menerimaku yang seperti ini.

Maaf ketika aku menjadi egois, sangat egois dengan segala hal baru yang kutemui diluar sana. Ketika mengabaikanmu menjadi alasan dan salah satu cara untuk tumbuh dewasa. Engkau menjadi alarm bagiku, untuk berhenti egois dan mengabaikan. Masih ada orang-orang penting disekitarku yang perlu kuperhatikan sebelum mereka pergi selamanya sepertimu. Masih ada banyak orang yang harus kubahagiakan dengan segala janji untuk masa depanku. Meskipun di masa depanku nanti tak mungkin kutemui kehadiranmu, tapi aku tahu engkau melihatku. Akan tetap melihatku tumbuh dan terus tumbuh dari tempat terdekat namun terasa begitu jauh. 

Terima kasih atas segala hal yang engkau berikan kepadaku. Memori-memori itu terus berputar di kepalaku ketika engkau pergi. Aku tak dapat berhenti tersenyum meskipun itu sulit bukan? Karena aku tahu, engkau masih ada. Tetap ada, meski raga tak lagi ada. 

Namida wo koraeteru yakusoku dakara
Dare yori mo tsuyoku naranakucha
Sayonara wa iwanai, datte wo tojite
Sugu ni aeru I remember you

Sepenggal kisah tentang teh angetmu, akan terus menjadi hal terindah. Berlebihankah? Mungkin, kalian (pembaca) perlu merasakan bagaimana ketika orang yang penting dalam hidup kalian pergi untuk selamanya. Orang yang dengan tulus terus menyayangi kalian dari kecil.

Aku akan tetap menyukai teh anget, rasa manisnya seperti memoriku sewaktu kecil. Tanpa keegoisan dan ketidaktahuan, hanya gelak tawa. Hangatnya seperti kehadiranmu. Dengan genggaman tanganmu yang terus menggandeng tanganku untuk tumbuh. Bersama teh anget ini, aku bercerita tentangmu. Kuharap engkau jauh, jauh, dan jauh lebih bahagia. Jangan terus mengkhawatirkan yang selalu dikhawatirkan. Sekarang, kekallah dengan kehidupanmu disana. Di sisi Allah, Penciptamu. 



Bahagiakan orang yang kalian sayangi selagi masih memiliki waktu, jangan menunggu 
Karena waktu enggan menunggu




Alm. Pak Man





Dari anak yang akan selalu menyayangimu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar