Senin, 20 Januari 2014

Hilir Sungaiku Jangan Marah

Selamat malam. Sudah berganti tahun dan rasanya sudah lama aku tidak menulis blog ini. Nyaris usang. Mungkin aku lupa atau berusaha melupakannya. Iya, ada kalanya pikiran dan isi otakku meluap hingga aku nyaris tak tahu mana yang harus kuingat dan kubuang. Aku benci saat-saat aku mulai melupakan banyak hal indah yang pernah ku alami. Lalu aku benci saat-saat aku mengingat hal yang justru ingin kulupakan. Semakin berusaha melupakan, semakin kita mengingatnya bukan? Itu bodohnya aku, manusia.


Aku lupa kalau aku sudah dewasa. Atau tepatnya harusnya aku menyadari bahwa aku ini sudah dewasa. Harusnya aku mulai memikirkan hal-hal yang dipikirkan orang-orang di luar sana. Tentang hidup, masa depan, dan cinta. Iya mungkin seperti itu. Aku selalu asik dengan dunia dimana aku ingin tinggal dan berharap tak ada satu pun orang mengusiknya. Aku bukan anjing penjaga yang harus terus menuruti perintah si majikan. Aku ingin hidup dengan caraku sendiri. Aku tak perlu melulu memikirkan ini-itu yang terlalu memusingkan. Aku ingin hidup seperti daun-daun yang gugur di musim kemarau dan tumbuh lagi di musim semi. Itu hal biasa kan? Tapi terkadang manusia ingin hidup dengan kepemilikan yang besar. Harta, ilmu, cinta dan bla-bla-bla. Aku ingin hidup dengan caraku sendiri dan bebas, asalkan aku tak pernah merugikan diriku sendiri dan orang lain, termasuk orangtuaku. Aku selalu ingat pesan kedua orangtuaku "Seburuk apapun hal yang kamu lakukan, jangan lupa shalat dan sedekah". Hanya satu kalimat tapi bermakna besar untukku. Kalau perlu kutambahkan lagi satu kalimat "Ya Rabbi, aku takut menjadi anak durhaka jadi tolong jangan jadikan aku anak durhaka". Sebuah kalimat tambahan yang coba selalu kupanjatkan dalam setiap doa. Aku hadir di dunia ini karena Allah menghendaki aku hadir dengan perantara kedua orangtuaku. Jadi orangtua adalah sebuah kado terindah Allah, bahkan tanpa kuminta. Haha. Picik ya? Tapi jujur, jika kejayaan dan kepintaran membawaku jauh dari orangtuaku maka aku memilih untuk tetap tinggal dengan segala kekurangan. Iya, menurutku bahagia bukan tercipta karena kepemilikan, tapi dengan siapa kita berada. 

Aku sedang berjalan ditengah sisa-sisa kesabaran dan keegoisan. Tapi aku tak ingin lupa bahwa aku hidup bukan dengan sendirinya aku ada disini. Aku pelupa. Iya, tapi aku tak pernah lupa darimana aku berasal. Dari keluarga sederhana yang selalu berjuang untuk tetap sederhana. Bukan dari keluarga konglomerat, bukan pula keluarga berpendidikan tinggi. Tanpa embel-embel nama marga terkenal. Tanpa embel-embel gelar yang wow. Biasa saja kok. Cukup. Jadi jangan pernah lupa darimana air sungai berasal sehingga dapat mengalir hingga membentuk sebuah lautan. Sebesar apapun sebuah lautan, tak seberapa besar tanpa dibentuk melalui hilir-hilir sungai yang kecil. Yora? 


Aku ingin menjadi lautan. Tapi aku harus ingat lautan juga terbentuk dari hilir-hilir sungai yang kecil. Aku tak boleh mengabaikan itu. 
Hilir-hilir sungai kecil tetaplah ada sampai aku menjadi lautan besar. 
Tetaplah ada meskipun laut ini masih selebar dedaunan yang meranggas.
Tetaplah ada meskipun laut ini memilih menjadi laut yang berbeda.
Karena meskipun laut ini berbeda tapi akan tetap bersumber dari hilir yang sama, tetap di hilir sungaimu.



 Setitik pengingat dalam jajaran tulisan amburadul
di tengah perjuangan dalam meneruskan jalan 
yang mungkin berlainan jalan dengan mereka
iya, mereka si pencipta jalan




dari seorang anak yang penuh keegoisan


1 komentar: