Jumat, 31 Januari 2014

Penikmat Masa

Selamat malam. Malam ini aku menulis lagi lewat laptop servisan loh. Penting? Hehe. 


Seperti biasa, hujan datang lagi. Entah kenapa hujan terus-menerus mengguyur Kota Solo. Maaf, mungkin maksudnya hampir seluruh negeri. Aku pikir hujan sedang menikmati masanya. Ya tentu, tak hanya manusia yang dapat menikmati masa, hujan pun demikian. Karena mungkin hujan merasa cemburu melihat masa-masa bahagia manusia. Jadi setidaknya hujanpun ingin ikut merasakan nikmat dari masanya. Bukan salah hujan, jika dimana-mana terjadi banjir. Oh, aku tak bermaksud memihak hujan, meskipun aku menyukai hujan tapi bukan maksudku untuk memihak hujan deras belakangan ini. Hanya saja, mungkin manusia tak dapat ikut berpartisipasi pada masa-masa dimana hujan sedang menikmati masanya. Bingung? It's okay. Aku tak akan membahas ini lagi. Lelah rasanya hanya mencari-cari penyebab dan saling menyalahkan, toh banjir tetap terjadi. Diam pun tak dapat menyelesaikan. Sejauh ini aku hanya dapat meminta kepada hujan. Janganlah berlebihan menikmati masamu, alangkah baiknya membagi bahagiamu padaku, manusia.



Lupakan soal banjir, terlalu panjang dan rumit untuk membahas banjir yang terjadi belakangan ini. Oke, dalam suasana hujan yang terasa dingin, aku akan menceritakan seorang lelaki yang menarik perhatianku. Dia adalah seorang kuli pasar. Bukan, aku bukannya jatuh cinta atau "menaksir" lelaki itu seperti kisah-kisah FTV. Untuk para fansku, kumohon tenang. 

Begini ceritanya. Aku memang hampir setiap hari mengantar Ibuku pergi ke pasar, ya Ibuku seorang pedagang dan kuli itu bekerja pada salah satu langganan Ibuku. Gampangnya, lelaki itu (sebut saja Mr. X) bekerja sebagai seorang kuli di toko langganan belanja ibuku. Seharusnya aku tak menyebutnya kuli, aku merasa sebutan itu sedikit merendahkan tapi sampai sekarang aku tak tahu pasti bagaimana menyebut pekerjaannya. Lalu yang menarik perhatianku adalah lelaki itu tampan. Oke sorry, dia memang tampan tapi bukan itu yang menarik perhatianku karena aku lebih tertari pada usianya yang mungkin seusiaku. Ya, usia dimana menikmati masa muda dengan segudang aktivitas kampus. Ups! bukan curhat ya. Setiap aku ke toko bosnya, aku merasa dia mengamatiku. Ini bukan PD atau GR. But, you must know lah perasaan diperhatikan seperti apa. Aku tak merasa itu masalah selama dia tak mengganggu. Aku memang cuek, hanya saja kadang risih juga sih. Namun belakangan aku berpikir lagi, mungkin dia mengamatiku bukan karena aku cantik dan manis halainggeh pedemu gedi tapi mungkin dia mengamatiku karena aku lebih beruntung daripada dia. Ya, aku bersekolah hingga hari ini aku sudah menjadi seorang mahasiswi.

Aku tak tahu namanya dan memang tak berusaha mencari tahu namanya. Aku tak tertarik dengan hal seperti itu. Hanya saja aku tertarik pada bagaimana mungkin lelaki yang cukup tampan dan terlihat bersih seperti dia, tidak bersekolah? Aneh menurutku. Apakah orangtuanya tak menganjurkan dia sekolah? Atau dia yang memang harus menjadi tulang punggung keluarga? Atau apa? Aneh. Aku ingin bertanya tapi aku tahu kalaupun aku bertanya langsung kepadanya hanya membuatnya kepedean dan aku malas berhubungan dengan orang yang sok-sok seperti itu. Kalaupun aku bertanya pada Ibuku, mungkin dia akan syok dengan mengira aku sedang menggaet kuli pasar untuk dijadikan mantunya. Oh no, tak perlu berlebihan seperti itu kan? Aku tak tertarik padanya dengan memandangnya sebagai lelaki. Serius. Tidak sedikitpun ada pandangan atau rasa yang aneh. Halah. Tidak sama sekali, hanya saja aku tertarik pada perannya sebagai seorang anak muda yang sudah bekerja sebagai kuli di pasar.

Seharusnya yang paling aneh disini adalah aku. Untuk apa aku memikirkan hal yang tak berguna begitu? Toh, berpikirpun tak mengubah keadaan lelaki itu. Toh, dia tetap seorang kuli yang harus bekerja dengan mengabaikan keinginannya di masa muda. Entah sekolah ataupun sekedar hang out, keinginan yang hanya berujung asa. Duh.

Lelaki itu seperti hujan.
Mengabaikan apa yang terjadi di luar dengan tetap menikmati masanya. Hujan, meskipun kau dicela-cela sebagai sumber bencana ataupun kau dipuja-puja sebagai sumber kehidupan, kau tetap menikmati masamu. Dan lelaki itu bekerja seperti hujan, meskipun diluar sana lebih banyak kebahagiaan ataupun lebih banyak kesedihan, kau tetap bekerja, bekerja, dan bekerja dengan mengabaikan keinginanmu sendiri. Mau tak mau kau pun harus menikmati masamu, ya masa yang telah kau pilih.
Dalam hujan, rintik demi rintiknya tetap turun meskipun hujatan selalu ada. Sama seperti lelaki itu, serendah apapun pandangan orang tentang pekerjaannya, kau tetap bekerja.
Ya dibalik buruknya hujan sebagai sumber bencana, hujanlah sumber kehidupan, air kehidupan yang diturunkan Sang Pencipta. Lelaki itu pun sama, pandangan buruk padanya tak digubris, selama pekerjaannya halal dan tidak merugikan orang lain. Toh, pekerjaannya membantu meringankan beban orang kan?
Ah, begitulah dunia dan seisinya. Tuhan itu MahaAdil kan? Hujan dan Lelaki itu pun bukti salah satu keadilan Tuhan, dalam sisi baik maupun buruk. 


Hujan jangan marah, 
kubiarkan kau menikmati masamu 
dengan panjatan doa kepada Sang Penciptamu
Lalu kepada sang kuli panggul
semoga kelak nasib berpihak lebih baik padamu
dengan kusisipkan doa untuk kebahagianmu
Kuingin kau belajar dari hujan
tetap selalu menikmati masanya
 karena dia tahu Tuhan tak pernah ingkar





Penikmat bakpou di masa hujan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar