Sabtu, 26 Oktober 2013

I'm Horrible Friend

Selamat siang! Hal yang langka ketika aku memposting blog pada siang hari. Haha. Weekend siang yang memang sedikit panas. Belakangan musim tak menentu, kadang panas, kadang mendung, dan tiba-tiba hujan deras. Seperti hatiku yang tak tentu, kadang rindu tapi enggan bertemu. Duileh wopoh.

Hari ini sebenarnya ada niat untuk refreshing bersama teman-teman, tapi seperti biasa, hal yang direncanakan terkadang hanya akan berakhir menjadi wacana semata. Rencana mau ke Jokja, menyusuri pantai, dan melihat indah malam di bukit bintang. But, it's just plan. Tapi kali ini bukan aku yang membatalkan secara sepihak. Bukan aku lagi. Meski sering penyebabnya adalah aku tapi kali ini bukan aku yang tiba-tiba cancel. Sudahlah, mari kita berblog saja.


Dari beberapa postinganku, tentu terlihat sedikit bagaimana karakterku. Meskipun tidak dapat sekilas memahami karakter seseorang, tapi setidaknya ada gambaran sedikit betapa menyebalkannya aku, apalagi untuk menjadi seorang teman. Iya menurutku sendiri, aku adalah teman yang bermasalah. I'm horrible friend. Sering lupa dengan janji atau membalas SMS, ceroboh, jahil, dan sekalinya datang terlambat pake banget. Itu hanya sebagian kecil dari sebermasalahnya aku. Kadang aku mengira aku masih kekanak-kanakan dengan segala hal jahil yang kubuat. Selain itu tubuhku yang mini menambah betapa childish-nya aku (sekilas info: panggilanku di kampus adalah Minion). Walaupun bagiku "just look my appearance" adalah salah besar. Kedewasaan tak perlu dilihat secara kasat mata kan? Justru jika kedewasaan digembar-gemborkan itu malah terlihat kekanakan bukan? Hal yang paling kusukai adalah ketika ada seseorang yang men-judge aku secara spontan, tanpa mengenaliku lebih dekat. Bukan ingin memukul atau mengatai orang itu, tapi aku malah pengen ngekek ya karena semua yang dikatakannya salah. Lucu aja.

Anehnya, setiap aku berbuat kesalahan, seberapa sering aku bermasalah, teman-temanku masih berbaik hati memakluminya. Itu yang kubutuhkan. Mereka mungkin hanya berakhir dengan menghela nafas panjang atau kadang sedikit ada hujatan, makian, dan pisuhan. Tapi tak apa, setidaknya mereka meluapkan kekesalannya saat itu dan setelah itu tetap bersikap seperti biasa. Aku suka itu. 

Hidupku sangat beruntung. Berkali-kali aku mengatakan itu kepada diriku sendiri agar aku tak sering mengeluh dan belajar bersyukur. Sampai detik ini, entah seberapa banyak hal baik yang ada pada diriku dan hidupku. Aku bahkan tak sanggup menghitungnya, saking akehe sak dayak koplak. Termasuk keberuntungan memiliki teman seperti mereka, teman-temanku. Teman yang ada, bukan hanya saat bahagia datang tapi teman yang ada di setiap keadaan. Aku tak pernah berharap temanku ada saat aku sedih, tapi aku hanya berharap mereka ada dalam semua keadaan. Entah itu saat bahagia, sedih, gundah, bersemangat, dan lainnya. Menurutku teman adalah sebuah keindahan. Ea.

Beberapa temanku sering meributkan tentang masalah teman seperti apa yang dibutuhkan, teman dengan kualitas atau kuantitas. Menurutku sama pentingnya. Jika teman dengan "kualitas" tentu it's wonderful-lah dan jika teman dengan "kuantitas" tentu pergaulan luas dan link semakin banyak. Tapi aku tak peduli dan tak mempermasalahkan semua itu, asal mereka mau menerimaku apa adanya, syukur Alhamdulillah kalau mereka dapat membawaku menjadi lebih baik. Jujur saja, aku tak butuh teman yang memintaku menjadi orang lain. Ibu yang berjuang melahirkanku saja mau menerimaku apa adanya, lalu kenapa untuk menjadi seorang teman, aku dituntut menjadi orang yang berbeda? Jelas salah kan? Lagipula yen mung KYB (Kanca Yen Butuh) aku isoh entuk sak truk gandeng, luweh malah. Poyok.

Diatas semua kebaikan temanku yang mau menerimaku "seperti ini", tentu ada yang jauh lebih mulia kebaikannya. Allah begitu Mahabaik, mendekatkanku (yang seperti ini) pada orang-orang baik yang mau menerimaku dengan semua kelebihan maupun kekuranganku. Terima kasih.


Untuk semua teman yang ku sayangi,
Jika aku berbuat salah, maka maklumilah. Lalu jika kesalahan itu terjadi secara terus-menerus dan membuatmu marah, maka hujatlah aku saat itu juga, 
tak apa, tapi setelah itu tetap tolong maklumilah. 
Aku tak butuh dipahami ataupun dimaafkan, hanya maklumilah.
Terima kasih atas pemaklumannya selama ini.



Dari teman yang butuh banyak dimaklumi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar