Selasa, 01 Oktober 2013

Berisyarat dalam sunyi

Selamat malam. Iya, walaupun bagiku sih ini belum malam.



Seperti makhluk nocturnal, beraktivitas di malam hari dan beristirahat di pagi hari. Aku mungkin begitu. Bukan karena suka begadang sih, tuntutan tugas? Jelas. Tapi bukan berarti setiap hari aku begadang karena tugas. Sejujurnya aku tidak begitu suka kata "begadang" kesannya negatif. Aku lebih suka kata "menikmati malam". Ea. Aku suka dengan suasana malam menjelang dini hari, suasana sepi dan sunyi. Beberapa teman mengatakan "malam itu menyeramkan". Yakali, kalau tengah malam pas begadang ketemu pocong baru serem. Tapi Alhamdulillah sih, sampai detik ini enggak. SAMA SEKALI JANGAN!


Selayaknya burung yang menikmati udara saat terbang, aku juga walaupun tak bisa terbang tapi aku menikmati malamku. Nggak nyambung? Iya emang. Piye toh kik. Rindu sunyi, ketika siang menjadi menjemuhkan dengan segala hiruk-pikuk jalanan dan ya begitulah dunia. Seharusnya semua orang tahu. 

Aku suka sunyi. Mungkin itu salah satu sebab aku ingin mendalami bahasa isyarat. Bahasa isyarat adalah bahasa non verbal yang biasanya digunakan untuk berkomunikasi bagi para deaf. Kalau masih belum paham sih ya, kreatif aja ya, intelek aja ya, searching kan bisa. Belakangan aku memang lagi mendalamin soal deaf dan bahasa isyarat. Bukan karena ingin kelihatan wah sih, apa juga yang pantes di-wah-in? Bukan mainstream juga. Mengingat masa lalu, seharusnya aku memang harus belajar bahasa isyarat. Cerita sedikit ya, waktu kecil, aku diasuh oleh mbak-mbak tetangga yang sudah kuanggap mbakku sendiri sih. Mbak yang selalu kupanggil Nani, tanpa embel-embel mbak padahal dia jauh lebih tua, saking tuanya pantes juga aku sebut Nenek. Oke kalimat terakhir cuma bercanda. 


Then, Nani adalah seorang deaf alias tuli. Aku rasa itu hal biasa bagi semua orang. Iya, orang-orang yang tidak mengetahui bagaimana kehidupanku. Lagipula aku tipe orang yang malas membicarakan kehidupan pribadi, sangat menghargai privasi. Oke, Deaf sering mengalami diskriminasi. Aku sering mengalami, maksudku Nani-ku. Dari kecil dia bahkan didiskriminasi oleh ibunya sendiri, sampai dewasa kini pun dia masih mengalami itu dari orang-orang, tak terkecuali orang terdekat. Aku kecil, belum tahu kenapa sampai Nani "diperlakukan" begitu, tapi beranjak dewasa tentu aku paham. Iya karena dia adalah deaf. Saking seringnya dia mengalami diskriminasi, dia mengira dirinya bodoh. Dipikirannya hanya ada kalimat "bagaimana dia bisa bertahan hidup", bertahan hidup yang dia tahu adalah bertahan dengan hanya memiliki uang. Huft! Memilukan ketika masa lalu membawa dampak buruk pada masa depan seseorang.

You can touch the sorrow here
I don't know what to blame
I just watch and watch again

Beberapa tahun lalu, aku tahu ada sebuah komunkitas di Solo yang bergerak di bidang deaf. "GERKATIN SOLO". Aku berusaha bagaimana aku bisa masuk menjadi bagian mereka,  sedikit obsesi mungkin karena Nani. Setidaknya aku ingin tahu bagaimana cara aku bisa memberi sedikit bahagia yang "sesungguhnya" pada Nani. You know-lah, sejak kecil aku diasuh sama doi, so I will try to give it for Nani. Modalku cuma Bismillah. Niatku sempet surut karena aku bingung caranya masuk komunitas itu. Memulai itu memang sulit.

Entah, Allah memang Maha Tahu segala hal yang tidak diketahui manusia. Aku bertemu, lagi tepatnya, dengan orang yang tak sengaja kuajak ngobrol-dengan-sok-akrabnya waktu Ondesk Mahasiswa Baru. Dan ternyata orang itu adalah anggota dari Gerkatin Solo. Subhanallah, kebetulan yang luar biasa. Waktu itu aku nyaris hopeless, tapi memang tak ada jalan buntu jika kita mau berusaha. Walaupun begitu aku masih takut memulai, hanya karena aku tipe orang bawel. Bayangkan menghadapi situasi ketika kamu adalah orang bawel yang mulai berkenalan dengan orang-orang yang memiliki keterbatasan dalam mendengar ataupun berbicara, aku hanya grogi bagaimana aku mulai berkenalan. Bukan menganggap mereka berbeda, hanya saja aku takut melukai hati mereka. Karena Nani begitu sensitif, kupikir kebanyakan deaf pun akan bersikap begitu. Lagipula aku tak kenal siapa-siapa, kenal mas itu pun cuma sebatas kenal. Bukan teman. Mungkin. "Bukankah semua orang berawal dari orang asing". Perkataan mas-mas Gerkatin itu selalu terngiang. Kalimat itu kuingat dan aku memulai dengan menjadi orang asing. Dan BERHASIL.


Bertemu dengan para deaf begitu menyenangkan. SANGAT MENYENANGKAN. Mereka hangat dan ramah. Aku suka berkenalan dengan para deaf. Mereka sadar mereka berketerbatasan, tapi keterbatasan itu tak membatasi mereka untuk tetap bahagia. Aku senang sekali. Aku bersyukur, kejadian "kebetulan-kebetulan"-ku mempertemukanku dengan mereka, Gerkatin Solo. Setidaknya aku satu langkah untuk bisa membawa Nani menjadi salah satu bagian dari para deaf itu. Deaf yang selalu bahagia dengan segala hal yang mereka punya maupun tak punya. 


What did it leave behind?
What did it take from us and wash away?
It may be long
But with our hearts start a new
And keep it up and not give up
With our heads held high




Bahasa Isyarat


Terima Kasih Tuhan,
karena Engkau telah menciptakan tangan-tangan baik 
bagi mereka yang tak bisa mendengar ataupun berbicara



Saatnya mendengar yang tak bersuara,
Mari berisyarat!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar