Teriknya panas matahari seperti tak
menyurutkan niat seorang gadis untuk terus duduk termenung sendirian disini. Tatapannya
kosong begitu dalam, dia seperti batu yang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Tingkah yang aneh, pikirku. Tak berselang beberapa lama, dia membuka tas lalu
mengambil kertas dan sebuah pena. Gadis itu sibuk dengan kedua benda tersebut. Entah
apa yang ditulisnya tetapi cukup membuatnya terhanyut dalam keseriusan seperti
itu.
“Hufft” terdengar nafas panjang.
Kemudian kulihat dia melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak
kayu kecil.
“Semoga ini dapat tumbuh..” bisiknya
sambil membuat sebuah lubang di tanah dan mengubur kotak itu disana.
“Oh jadi dia mengubur kotak itu di
dalam tanah agar itu tumbuh, apa dia gila?” pikirku dalam hati. Gadis itu
beranjak pergi dengan meninggalkan pertanyaan besar dalam pikiranku.
Beberapa hari kemudian, gadis itu
kembali lagi. Gadis bermata bulat dengan rambut berpita biru. Tunggu. Kali ini dia tidak
membawa tas, tetapi hanya membawa sebuah… gitar?
“Hei ini awal yang akan
mengubah hidupku, bukan sekedar mimpi semu tak berujung, tetapi aku hidup
untuk membuat mimpi menjadi kenyataan, tak peduli kata orang bukan?” teriaknya
dengan lantang di hadapanku. “Coba dengarkan…” Dia memainkan gitarnya dan
bernyanyi.
Aku seharusnya
mengikuti mimpiku
di jalan berangin yang sempit ini, bergumam di tengah keramaian orang
di jalan berangin yang sempit ini, bergumam di tengah keramaian orang
Sepanjang hari gadis ini hanya
bermain gitar dan bernyanyi. Aku heran tetapi
dari kegiatannya itu, aku melihat bermacam-macam ekspresi wajahnya. Dia seperti
memiliki dunia dimana hanya dia yang hidup disana. Terkadang dia juga bercerita
panjang lebar tentang hidupnya.
“Kamu tahu? Aku ini calon orang
sukses. Modalku hanya gitar pemberian ibuku ini. Walau semua orang menentangku
dan berusaha menyiutkan nyaliku, termasuk ayahku, aku tak peduli. Musik itu
hidupku” pernyataan tegas yang mengagumkan.
Waktu berlalu cepat dan langit
mulai memerah, dia memasukkan gitarnya ke dalam tas kemudian bersiap pergi.
“Aku pulang
dulu ya. Sampai jumpa” katanya sambil melambaikan tangan seraya beranjak pergi. Ini hal baru, dia
berpamitan.
---
Malam ini, kami
berkumpul. Sangat jarang kami dikumpulkan seperti ini. Sepertinya tetua ingin memberikan
informasi.
“Wahai saudaraku,
manusia sekarang mulai benar-benar tak bersahabat dengan kita, alam.
Mereka cenderung memberantas kita, padahal kita termasuk sumber kehidupannya.
Sungguh menyedihkan bukan?” kata tetua.
“Iya, tuan. Mereka
hanya melihat kita seperti bumbu-bumbu masakan, tak berharga lebih selain
karena manfaatnya, tanpa memandang kelestariannya. Bumbu masakan yang ketika
berjamur tak berguna, dibuang begitu saja” sahut lainnya.
“Benar, kita
hanya dijadikan property untuk keuntungan mereka semata dan tanpa
menjaga ataupun melestarikan kita. Akibatnya lingkungan rusak dan bencana alam
terjadi dimana-mana”
“Lalu apa yang dapat
kita lakukan? Kita tak dapat menolak ataupun memprotes tindakan mereka.
Berpangku tangan dan menerima itulah yang dapat kita lakukan”
“Kita dapat
menyerang mereka dengan sedikit bantuan dari populasi spesies lain, tuan. Kita memiliki…”
“Tunggu!” sahutku.
“Tidak semua manusia seburuk itu. Buktinya kota ini masih membiarkan kita hidup.
Kita hanya membutuhkan kesabaran agar mereka mengerti. Ketika lampu padam,
jangan tutupi kegelapan dengan kegelapan lagi, tetapi nyalakan lilin. Begitu
pula dengan kasus ini, jangan memperburuk suasana dengan menjadikan manusia musuh
kita. Ekosistem akan tergoyah dan tidak ada keseimbangan lagi” jelasku.
“Benar. Baiklah
kita akan bersabar dan menunggu apakah tindakan mereka merusak alam akan cepat
berakhir” kata tetua. “Dengan begitu, rapat kali ini saya tutup”
“Syukurlah”
batinku.
Tentu saja aku
mencoba memberi pembelaan terhadap manusia karena aku masih ingin melihat sosok
ini. Sosok gadis pemimpi yang duduk di depanku ini.
“Eh kamu tahu
nggak kenapa aku nyaman berada di sini?”
Tenyata dia mulai
memakai bahasa yang tidak baku padaku. Eh, tetapi benar juga, mengapa dia
selalu datang kesini ya?
“Entah kenapa
aku selalu nyaman berada disini. Dibawah daun-daunmu yang rindang dan suara-suara
tiupan angin yang membawa daunmu berterbangan. Pemandangan yang indah”
Pemikiran yang sederhana
ketika dia mencintai alam.
“Selain itu,
tempat ini membawa kenangan tentang ibuku” terlihat raut wajahnya berubah
muram. “Bukannya aku ingin kembali ke masa lalu, tetapi aku hanya ingin
bernostalgia. Haha” tawanya pahit.
Rasanya aku
ingin memeluknya dan menenangkannya. Tetapi apa yang dapat kulakukan? Aku bukan
manusia, si pemilik tangan yang dapat merengkuhnya dalam pelukan hangat. Aku
hanya sebatang pohon.
Kujatuhkan satu
per satu daunku, seakan memberitahunya bahwa aku mendengar dan mengerti apa
yang dia rasakan. Terlihat salah satu daunku mengenai hidungnya.
“Eh? Kamu
mendengarku pohon? Itulah kenapa aku ingin menjadi pohon. Hidup dengan memberi
manfaat pada manusia tanpa mengharapkan balasan. Betapa baiknya pohon ketika
manusia mulai merusak dan menebang habis hidupnya, tetapi pohon tetap terus menghasilkan
oksigen untuk kehidupan” katanya seraya mendekatiku dan mulai memelukku.
“Aku ingin
menjadi pohon yang berdiri kuat dan kokoh meskipun angin kencang menerpaku
setiap hari”
Perkataannya
begitu indah tetapi tersirat luka yang mendalam. Keberadaan gadis ini membuktikan
bahwa masih ada manusia yang dapat mengerti dan peduli terhadap kehidupan pohon.
---
Pohon
bukan makhluk nocturnal yang beristirahat siang hari dan beraktivitas di malam
hari. Tetapi kami lebih sering berkumpul pada malam hari karena di siang hari
kami harus berfotosintesis menghasilkan oksigen untuk kehidupan. Begitu juga
dengan malam ini.
“Apakah ada
informasi terbaru mengenai manusia?” tanya tetua.
“Ada, tuan.
Tadi pagi ada burung pipit yang hinggap pada dahan saya dan dia memberitahu
kabar buruk untuk semua pohon di kota ini” jawab sebatang pohon.
“Kabar buruk
apa itu?”
“Kabarnya
manusia di kota ini akan menebang semua pohon di daerah ini karena ingin
menjadikannya sebuah apartemen. Apa yang harus kita lakukan, tuan?”
Berita dari
sebatang pohon itu disambut beragam oleh pohon yang lainnya. Suasana malam yang
sepi kemudian berubah ramai dengan hiruk pikuk kecemasan pohon-pohon.
“Ini sudah
tidak dapat dibiarkan lagi. Aku sebagai tetua disini tak akan tinggal diam. Aku
akan memanggil spesies lain untuk membantu kita. Akan kusuruh mereka menyerang
manusia karena jika kita musnah maka habitat dan populasi spesies lain pun akan
musnah”
“Tunggu, tuan.
Tidakkah sebaiknya kita memastikan kebenaran berita itu? Siapa tahu itu hanya…”
kataku.
“Kamu masih ingin
membela manusia? Apa kamu merelakan populasi kita hancur karena ulah manusia?
Pohon seperti apa kamu ini, membiarkan manusia bertingkah seenaknya dengan
kehidupan kita” sanggah tetua yang kelihatan begitu murka dengan berita itu.
“Akan tetapi
ini hanya akan…” Belum selesai aku bicara, pohon lain mulai bersahutan
menyampaikan berita kepada spesies lain di daerah ini.
Perasaanku
mengatakan ini akan menjadi hal yang buruk. Aku tak dapat hanya diam membiarkan
ini terjadi. Tetapi apa yang harus kulakukan? Apa yang dapat dilakukan sebatang
pohon tanpa adanya tangan dan kaki ataupun panca indera yang lengkap seperti
manusia? Nihil.
Keesokkan harinya.
Aku menunggu gadis itu untuk memberitahunya rencana tetua pohon, tetapi dia tak
kunjung datang. Ini tidak seperti biasanya. Sampai malam menjelang dia tetap tidak
datang. Dimana dia?
“Kita akan mulai
menyerang saat tengah malam tiba, saat manusia menjadi seperti bayi yang
terlelap tidur” kata tetua pohon setelah mengumpulkan para balawannya.
Ternyata
balawan yang datang malam ini adalah pasukan nyamuk DBD. Mereka bersiap
menyerang dengan membawa virus yang mematikan. Sungguh gila.
Tengah malam
tiba dan pasukan nyamuk itu mulai menyerang dari satu rumah ke rumah yang lain.
Mereka seperti tamu tak diundang, menyelinap dari ventilasi atau gorong-gorong
rumah. Terbang kesana-kemari seakan haus mencari mangsa. Benar, mangsa mereka
adalah manusia. Aku sangat berharap gadis itu baik-baik saja dan tidak menjadi
salah satu korban keganasan pasukan nyamuk itu.
Fajar mulai
menyingsing, pasukan nyamuk kembali. Diantara mereka ada yang gugur karena
tangan-tangan besar manusia tetapi banyak pula yang dapat bertahan dan kembali
dengan selamat. Tetua dan pohon-pohon yang lain terlihat puas, sedangkan aku
dirundung kecemasan.
“Please.
Kumohon datang dengan membawa gitarmu lagi” pintaku.
Akan tetapi
bukan gadis berpita biru dan membawa gitar yang datang, melainkan beberapa
kendaraan berat dan para manusia pembawa alat-alat tajam. Mereka dari kejauhan
terlihat begitu mengerikan. Pemandangan paling menakutkan untuk para pohon.
Sejenak saja, mereka sudah berada tepat di depan kami, para pohon.
“Tebang mereka
hingga tak tersisa!” seru seorang lelaki berpakaian rapi dengan menunjuk ke arah
kami. Aku pikir dia adalah pimpinan dari kegiatan ini. Para manusia pembawa alat-alat
tajam itu seakan berubah menjadi robot yang memandang lurus kearah
kami tanpa bergeming. Alat-alat tajam yang dibawanya pun siap diayunkan dari
satu dahan ke dahan yang lain. Terdengar suara jerit pohon dan suara mesin secara
bersamaan yang menjadikannya perpaduan melodi yang kontras dan pilu.
Aku hanya berdiri
kaku seraya menunggu giliranku tiba. Satu per satu pohon disampingku pun
tumbang. Kemudian seorang lelaki gendut dan berjenggot tebal mendekatiku sambil membawa
kapak. Dia menatapku seperti ayam panggang yang siap disantap. Tak lama kemudian
dia mengayunkan kapak itu tepat di batangku yang besar.
Satu tebasan.
Aku masih berdiri kokoh. Dua tebasan. Tetap kokoh. Tiga tebasan. Aku masih
berdiri.
Aku enggan
tumbang dan hancur sebelum aku dapat melihat gadis itu terakhir kali. Gadis pemimpi
yang mencintai pohon. Aku ingin mendengar nyanyian lagunya yang belum terselesaikan.
Aku ingin melihat dia mewujudkan mimpinya. Ah, aku masih ingin hidup.
Di tengah
kesadaranku yang kian memudar, kulihat dari kejauhan seseorang berlari kencang
dengan menjinjing tas gitarnya. Ya seseorang itu tidak lain dan tidak bukan adalah
gadis bermata bulat. Semakin mendekat kulihat matanya tak lagi bulat, tetapi menyipit
dan memerah terbalut air mata. Raut mukanya pucat pasi. Mungkin dia kelelahan
berlari.
“AYAAAAAHHHHHH…”
panggil gadis itu. Lelaki berpakaian rapi itu pun menengok ke arahnya.
“Apa yang ayah
lakukan? Kenapa ayah tega menebang semua pohon disini? Tidak cukupkah
ayah mencoba mengubur kenanganku bersama ibu?”
“Tunggu, nak!
Bukan begituu… ”bantah lelaki itu.
Dia terus berlari
ke arahku tanpa memperdulikan ayahnya dan hanya berlalu melewatinya. Kemudian gadis
itu berhadapan dengan lelaki gendut yang dari tadi tak menghentikan tebangannya untuk
menjatuhkan aku ke tanah. Dia merebut kapak si gendut itu. “Dasar gendut!” katanya
sambil melempar kapak itu jauh-jauh. Dia langsung memelukku yang telah jatuh
diatas tanah. Lalu dia berkata seperti lagu itu.
Aku harus
meminta maaf untuk ini. Ah, maafkan aku.
Aku tidak bisa mengatakannya dengan baik. Aku hanya membuat khawatir.
Aku tidak bisa mengatakannya dengan baik. Aku hanya membuat khawatir.
Hanya tangis
yang terdengar di sela-sela kesadaranku yang menipis. Setidaknya Tuhan telah
mengabulkan doaku untuk melihatmu untuk terakhir kalinya.
---
Aku tetap
disini. Tidur dalam sisa-sisa penebangan kemarin. Rasanya aku kehilangan sosok
penting dalam hidupku, walaupun itu hanya sebatang pohon. Semilir angin sepoi membawaku
tertidur ke alam dimana aku dapat melihatmu lagi. Aku melihat sosokmu disana.
Ini untuk
pertama kalinya aku mendengar suaramu.
“Apa kamu
menyerah? Apa kamu menyelesaikan lagu itu? Bangun dan bukalah kotak yang kamu
kubur di dekat akarku”
Aku terbangun
dan mulai mencari letak dimana aku mengubur kotak itu. Aku menemukannya dan
langsung kubuka kotak kayu yang telah kotor itu. Secarik kertas bertuliskan sebuah impian. Aku mulai membacanya:
“Aku ingin
menjadi penyanyi dan aku harap bibit mimpiku ini dapat tumbuh seiring
berjalannya waktu seperti tumbuhnya pohon ini. Semakin besar dan semakin kokoh”
Air mataku mulai
menetes. Jadi, dia ingin mengingatkanku tentang kertas ini. Kertas berisi mimpi
ini. Aku mulai tersenyum dan menghapus air mata yang membasahi pipiku. Aku
masukkan lagi kertas itu ke dalam kotak dan aku timbun lagi dengan tanah. Lalu
aku mengambil sebuah pena dalam tas dan kutuliskan kata “AGAIN” diatas sisa
batang pohonmu itu. Aku harap kata “AGAIN” mengartikan bahwa kamu dapat tumbuh lagi
seperti mimpiku yang kembali hadir untuk diperjuangkan lagi.
Bagaimana aku membuka pintu selanjutnya? Aku
berpikir.
Kisah yang tak dapat ditarik kembali telah dimulai.
Buka matamu. Buka matamu.
Kisah yang tak dapat ditarik kembali telah dimulai.
Buka matamu. Buka matamu.
Masih ada banyak hal dalam hidup untuk
menghapus perasaan ini.
Aku ingin mengulanginya dari awal lagi, supaya aku dapat menyelesaikan yang belum kuselesaikan.
Haruskah kita mulai LAGI?
Aku ingin mengulanginya dari awal lagi, supaya aku dapat menyelesaikan yang belum kuselesaikan.
Haruskah kita mulai LAGI?
Didedikasikan untuk pohon-pohon di Jakarta
ini semacam cinta terlarang? =)) *dibalang
BalasHapusceritanya kayak di doraemon movie: midori no kyoji. bagus, nna.
rikues dong, lain kali tokohnya kucing. apa panda gitu :3
yuk mari baca punya saya :3 http://aiiyuum.blogspot.com/2013/01/aku-prajurit-fignaz.html
eh masa? aku malah lagi nyadar, ada toh cerita doraemon yg semacam itu, mbak?
BalasHapussudah daku baca loh~
yah, nggak sama plek sih. tp yaa sama tentang pohon, ngelindungi pohon gitu. dan pohonnya juga bisa bicara.
BalasHapuskalau tata nulisnya sih mungkin itu pengakhiran kalimat langsungnya. beberapa kurang tanda baca kayak titik atau koma.
Doraemon? Kok malah inget film Barbie Diary *fokusnya makin jauh* :))
BalasHapusBagus ceritanya :D
kasian pohonnyaa~ :'(
BalasHapusIni apaaaaaaaaa? Kenapa sedih baca cerita pohon ngomong? (?) /peluk pohon/
BalasHapus"Ketika lampu padam, jangan tutupi kegelapan dengan kegelapan lagi, tetapi nyalakan lilin." :))
Sederhana, tapi manis :)
BalasHapussedang berkomentar..
BalasHapus