Jumat, 18 Januari 2013

Tree for Dream


 Teriknya panas matahari seperti tak menyurutkan niat seorang gadis untuk terus duduk termenung sendirian disini. Tatapannya kosong begitu dalam, dia seperti batu yang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tingkah yang aneh, pikirku. Tak berselang beberapa lama, dia membuka tas lalu mengambil kertas dan sebuah pena. Gadis itu sibuk dengan kedua benda tersebut. Entah apa yang ditulisnya tetapi cukup membuatnya terhanyut dalam keseriusan seperti itu.
“Hufft” terdengar nafas panjang. Kemudian kulihat dia melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak kayu kecil.
“Semoga ini dapat tumbuh..” bisiknya sambil membuat sebuah lubang di tanah dan mengubur kotak itu disana.
“Oh jadi dia mengubur kotak itu di dalam tanah agar itu tumbuh, apa dia gila?” pikirku dalam hati. Gadis itu beranjak pergi dengan meninggalkan pertanyaan besar dalam pikiranku.

---

Beberapa hari kemudian, gadis itu kembali lagi. Gadis bermata bulat dengan rambut berpita biru. Tunggu. Kali ini dia tidak membawa tas, tetapi hanya membawa sebuah… gitar?
“Hei ini awal yang akan mengubah hidupku, bukan sekedar mimpi semu tak berujung, tetapi aku hidup untuk membuat mimpi menjadi kenyataan, tak peduli kata orang bukan?” teriaknya dengan lantang di hadapanku. “Coba dengarkan…” Dia memainkan gitarnya dan bernyanyi.

Aku seharusnya mengikuti mimpiku
di jalan berangin yang sempit ini, bergumam di tengah keramaian orang

Sepanjang hari gadis ini hanya bermain gitar dan bernyanyi.  Aku heran tetapi dari kegiatannya itu, aku melihat bermacam-macam ekspresi wajahnya. Dia seperti memiliki dunia dimana hanya dia yang hidup disana. Terkadang dia juga bercerita panjang lebar tentang hidupnya.
“Kamu tahu? Aku ini calon orang sukses. Modalku hanya gitar pemberian ibuku ini. Walau semua orang menentangku dan berusaha menyiutkan nyaliku, termasuk ayahku, aku tak peduli. Musik itu hidupku” pernyataan tegas yang mengagumkan.
Waktu berlalu cepat dan langit mulai memerah, dia memasukkan gitarnya ke dalam tas kemudian bersiap pergi.
“Aku pulang dulu ya. Sampai jumpa” katanya sambil melambaikan tangan seraya beranjak pergi. Ini hal baru, dia berpamitan.

---
Malam ini, kami berkumpul. Sangat jarang kami dikumpulkan seperti ini. Sepertinya tetua ingin memberikan informasi.
“Wahai saudaraku, manusia sekarang mulai benar-benar tak bersahabat dengan kita, alam. Mereka cenderung memberantas kita, padahal kita termasuk sumber kehidupannya. Sungguh menyedihkan bukan?” kata tetua.
“Iya, tuan. Mereka hanya melihat kita seperti bumbu-bumbu masakan, tak berharga lebih selain karena manfaatnya, tanpa memandang kelestariannya. Bumbu masakan yang ketika berjamur tak berguna, dibuang begitu saja” sahut lainnya.
“Benar, kita hanya dijadikan property untuk keuntungan mereka semata dan tanpa menjaga ataupun melestarikan kita. Akibatnya lingkungan rusak dan bencana alam terjadi dimana-mana”
“Lalu apa yang dapat kita lakukan? Kita tak dapat menolak ataupun memprotes tindakan mereka. Berpangku tangan dan menerima itulah yang dapat kita lakukan”
“Kita dapat menyerang mereka dengan sedikit bantuan dari populasi spesies lain, tuan. Kita memiliki…”
“Tunggu!” sahutku. “Tidak semua manusia seburuk itu. Buktinya kota ini masih membiarkan kita hidup. Kita hanya membutuhkan kesabaran agar mereka mengerti. Ketika lampu padam, jangan tutupi kegelapan dengan kegelapan lagi, tetapi nyalakan lilin. Begitu pula dengan kasus ini, jangan memperburuk suasana dengan menjadikan manusia musuh kita. Ekosistem akan tergoyah dan tidak ada keseimbangan lagi” jelasku.
“Benar. Baiklah kita akan bersabar dan menunggu apakah tindakan mereka merusak alam akan cepat berakhir” kata tetua. “Dengan begitu, rapat kali ini saya tutup”
“Syukurlah” batinku.
Tentu saja aku mencoba memberi pembelaan terhadap manusia karena aku masih ingin melihat sosok ini. Sosok gadis pemimpi yang duduk di depanku ini.
“Eh kamu tahu nggak kenapa aku nyaman berada di sini?”
Tenyata dia mulai memakai bahasa yang tidak baku padaku. Eh, tetapi benar juga, mengapa dia selalu datang kesini ya?
“Entah kenapa aku selalu nyaman berada disini. Dibawah daun-daunmu yang rindang dan suara-suara tiupan angin yang membawa daunmu berterbangan. Pemandangan yang indah”
Pemikiran yang sederhana ketika dia mencintai alam.
“Selain itu, tempat ini membawa kenangan tentang ibuku” terlihat raut wajahnya berubah muram. “Bukannya aku ingin kembali ke masa lalu, tetapi aku hanya ingin bernostalgia. Haha” tawanya pahit.
Rasanya aku ingin memeluknya dan menenangkannya. Tetapi apa yang dapat kulakukan? Aku bukan manusia, si pemilik tangan yang dapat merengkuhnya dalam pelukan hangat. Aku hanya sebatang pohon.
Kujatuhkan satu per satu daunku, seakan memberitahunya bahwa aku mendengar dan mengerti apa yang dia rasakan. Terlihat salah satu daunku mengenai hidungnya.
“Eh? Kamu mendengarku pohon? Itulah kenapa aku ingin menjadi pohon. Hidup dengan memberi manfaat pada manusia tanpa mengharapkan balasan. Betapa baiknya pohon ketika manusia mulai merusak dan menebang habis hidupnya, tetapi pohon tetap terus menghasilkan oksigen untuk kehidupan” katanya seraya mendekatiku dan mulai memelukku.
“Aku ingin menjadi pohon yang berdiri kuat dan kokoh meskipun angin kencang menerpaku setiap hari”
Perkataannya begitu indah tetapi tersirat luka yang mendalam. Keberadaan gadis ini membuktikan bahwa masih ada manusia yang dapat mengerti dan peduli terhadap kehidupan pohon.

---

Pohon bukan makhluk nocturnal yang beristirahat siang hari dan beraktivitas di malam hari. Tetapi kami lebih sering berkumpul pada malam hari karena di siang hari kami harus berfotosintesis menghasilkan oksigen untuk kehidupan. Begitu juga dengan malam ini.
“Apakah ada informasi terbaru mengenai manusia?” tanya tetua.
“Ada, tuan. Tadi pagi ada burung pipit yang hinggap pada dahan saya dan dia memberitahu kabar buruk untuk semua pohon di kota ini” jawab sebatang pohon.
“Kabar buruk apa itu?”
“Kabarnya manusia di kota ini akan menebang semua pohon di daerah ini karena ingin menjadikannya sebuah apartemen. Apa yang harus kita lakukan, tuan?”
Berita dari sebatang pohon itu disambut beragam oleh pohon yang lainnya. Suasana malam yang sepi kemudian berubah ramai dengan hiruk pikuk kecemasan pohon-pohon.
“Ini sudah tidak dapat dibiarkan lagi. Aku sebagai tetua disini tak akan tinggal diam. Aku akan memanggil spesies lain untuk membantu kita. Akan kusuruh mereka menyerang manusia karena jika kita musnah maka habitat dan populasi spesies lain pun akan musnah”
“Tunggu, tuan. Tidakkah sebaiknya kita memastikan kebenaran berita itu? Siapa tahu itu hanya…” kataku.
“Kamu masih ingin membela manusia? Apa kamu merelakan populasi kita hancur karena ulah manusia? Pohon seperti apa kamu ini, membiarkan manusia bertingkah seenaknya dengan kehidupan kita” sanggah tetua yang kelihatan begitu murka dengan berita itu.
“Akan tetapi ini hanya akan…” Belum selesai aku bicara, pohon lain mulai bersahutan menyampaikan berita kepada spesies lain di daerah ini.
Perasaanku mengatakan ini akan menjadi hal yang buruk. Aku tak dapat hanya diam membiarkan ini terjadi. Tetapi apa yang harus kulakukan? Apa yang dapat dilakukan sebatang pohon tanpa adanya tangan dan kaki ataupun panca indera yang lengkap seperti manusia? Nihil.
Keesokkan harinya. Aku menunggu gadis itu untuk memberitahunya rencana tetua pohon, tetapi dia tak kunjung datang. Ini tidak seperti biasanya. Sampai malam menjelang dia tetap tidak datang. Dimana dia?
“Kita akan mulai menyerang saat tengah malam tiba, saat manusia menjadi seperti bayi yang terlelap tidur” kata tetua pohon setelah mengumpulkan para balawannya.
Ternyata balawan yang datang malam ini adalah pasukan nyamuk DBD. Mereka bersiap menyerang dengan membawa virus yang mematikan. Sungguh gila.
Tengah malam tiba dan pasukan nyamuk itu mulai menyerang dari satu rumah ke rumah yang lain. Mereka seperti tamu tak diundang, menyelinap dari ventilasi atau gorong-gorong rumah. Terbang kesana-kemari seakan haus mencari mangsa. Benar, mangsa mereka adalah manusia. Aku sangat berharap gadis itu baik-baik saja dan tidak menjadi salah satu korban keganasan pasukan nyamuk itu.
Fajar mulai menyingsing, pasukan nyamuk kembali. Diantara mereka ada yang gugur karena tangan-tangan besar manusia tetapi banyak pula yang dapat bertahan dan kembali dengan selamat. Tetua dan pohon-pohon yang lain terlihat puas, sedangkan aku dirundung kecemasan.
Please. Kumohon datang dengan membawa gitarmu lagi” pintaku.
Akan tetapi bukan gadis berpita biru dan membawa gitar yang datang, melainkan beberapa kendaraan berat dan para manusia pembawa alat-alat tajam. Mereka dari kejauhan terlihat begitu mengerikan. Pemandangan paling menakutkan untuk para pohon. Sejenak saja, mereka sudah berada tepat di depan kami, para pohon.
“Tebang mereka hingga tak tersisa!” seru seorang lelaki berpakaian rapi dengan menunjuk ke arah kami. Aku pikir dia adalah pimpinan dari kegiatan ini. Para manusia pembawa alat-alat tajam itu seakan berubah menjadi robot yang memandang lurus kearah kami tanpa bergeming. Alat-alat tajam yang dibawanya pun siap diayunkan dari satu dahan ke dahan yang lain. Terdengar suara jerit pohon dan suara mesin secara bersamaan yang menjadikannya perpaduan melodi yang kontras dan pilu.
Aku hanya berdiri kaku seraya menunggu giliranku tiba. Satu per satu pohon disampingku pun tumbang. Kemudian seorang lelaki gendut dan berjenggot tebal mendekatiku sambil membawa kapak. Dia menatapku seperti ayam panggang yang siap disantap. Tak lama kemudian dia mengayunkan kapak itu tepat di batangku yang besar.
Satu tebasan. Aku masih berdiri kokoh. Dua tebasan. Tetap kokoh. Tiga tebasan. Aku masih berdiri.
Aku enggan tumbang dan hancur sebelum aku dapat melihat gadis itu terakhir kali. Gadis pemimpi yang mencintai pohon. Aku ingin mendengar nyanyian lagunya yang belum terselesaikan. Aku ingin melihat dia mewujudkan mimpinya. Ah, aku masih ingin hidup.
Di tengah kesadaranku yang kian memudar, kulihat dari kejauhan seseorang berlari kencang dengan menjinjing tas gitarnya. Ya seseorang itu tidak lain dan tidak bukan adalah gadis bermata bulat. Semakin mendekat kulihat matanya tak lagi bulat, tetapi menyipit dan memerah terbalut air mata. Raut mukanya pucat pasi. Mungkin dia kelelahan berlari.
“AYAAAAAHHHHHH…” panggil gadis itu. Lelaki berpakaian rapi itu pun menengok ke arahnya.
“Apa yang ayah lakukan? Kenapa ayah tega menebang semua pohon disini? Tidak cukupkah ayah mencoba mengubur kenanganku bersama ibu?”
“Tunggu, nak! Bukan begituu… ”bantah lelaki itu.
Dia terus berlari ke arahku tanpa memperdulikan ayahnya dan hanya berlalu melewatinya. Kemudian gadis itu berhadapan dengan lelaki gendut yang dari tadi tak menghentikan tebangannya untuk menjatuhkan aku ke tanah. Dia merebut kapak si gendut itu. “Dasar gendut!” katanya sambil melempar kapak itu jauh-jauh. Dia langsung memelukku yang telah jatuh diatas tanah. Lalu dia berkata seperti lagu itu.

Aku harus meminta maaf untuk ini. Ah, maafkan aku.
Aku tidak bisa mengatakannya dengan baik. Aku hanya membuat khawatir.

Hanya tangis yang terdengar di sela-sela kesadaranku yang menipis. Setidaknya Tuhan telah mengabulkan doaku untuk melihatmu untuk terakhir kalinya.

---

Aku tetap disini. Tidur dalam sisa-sisa penebangan kemarin. Rasanya aku kehilangan sosok penting dalam hidupku, walaupun itu hanya sebatang pohon. Semilir angin sepoi membawaku tertidur ke alam dimana aku dapat melihatmu lagi. Aku melihat sosokmu disana.  
Ini untuk pertama kalinya aku mendengar suaramu.
“Apa kamu menyerah? Apa kamu menyelesaikan lagu itu? Bangun dan bukalah kotak yang kamu kubur di dekat akarku”
Aku terbangun dan mulai mencari letak dimana aku mengubur kotak itu. Aku menemukannya dan langsung kubuka kotak kayu yang telah kotor itu. Secarik kertas bertuliskan sebuah impian. Aku mulai membacanya:

“Aku ingin menjadi penyanyi dan aku harap bibit mimpiku ini dapat tumbuh seiring berjalannya waktu seperti tumbuhnya pohon ini. Semakin besar dan semakin kokoh”

Air mataku mulai menetes. Jadi, dia ingin mengingatkanku tentang kertas ini. Kertas berisi mimpi ini. Aku mulai tersenyum dan menghapus air mata yang membasahi pipiku. Aku masukkan lagi kertas itu ke dalam kotak dan aku timbun lagi dengan tanah. Lalu aku mengambil sebuah pena dalam tas dan kutuliskan kata “AGAIN” diatas sisa batang pohonmu itu. Aku harap kata “AGAIN” mengartikan bahwa kamu dapat tumbuh lagi seperti mimpiku yang kembali hadir untuk diperjuangkan lagi.
Bagaimana aku membuka pintu selanjutnya? Aku berpikir.
Kisah yang tak dapat ditarik kembali telah dimulai.
Buka matamu. Buka matamu.

Masih ada banyak hal dalam hidup untuk menghapus perasaan ini.
Aku ingin mengulanginya dari awal lagi, supaya aku dapat menyelesaikan yang belum kuselesaikan.
Haruskah kita mulai LAGI?





Didedikasikan untuk pohon-pohon di Jakarta

8 komentar:

  1. ini semacam cinta terlarang? =)) *dibalang
    ceritanya kayak di doraemon movie: midori no kyoji. bagus, nna.
    rikues dong, lain kali tokohnya kucing. apa panda gitu :3

    yuk mari baca punya saya :3 http://aiiyuum.blogspot.com/2013/01/aku-prajurit-fignaz.html

    BalasHapus
  2. eh masa? aku malah lagi nyadar, ada toh cerita doraemon yg semacam itu, mbak?
    sudah daku baca loh~

    BalasHapus
  3. yah, nggak sama plek sih. tp yaa sama tentang pohon, ngelindungi pohon gitu. dan pohonnya juga bisa bicara.
    kalau tata nulisnya sih mungkin itu pengakhiran kalimat langsungnya. beberapa kurang tanda baca kayak titik atau koma.

    BalasHapus
  4. Doraemon? Kok malah inget film Barbie Diary *fokusnya makin jauh* :))

    Bagus ceritanya :D

    BalasHapus
  5. Ini apaaaaaaaaa? Kenapa sedih baca cerita pohon ngomong? (?) /peluk pohon/

    "Ketika lampu padam, jangan tutupi kegelapan dengan kegelapan lagi, tetapi nyalakan lilin." :))

    BalasHapus