Bagi anak muda jaman sekarang, pacaran itu seperti perwujudan dari rasa cinta. Kalau jaman Nabi dan dalam Islam sih tak ada kamus soal “pacaran”. Adanya ta’aruf, jadi ketemu langsung bakbuk nikah. Tapi itu dianggap kurang lazim, apalagi di negara kita, baik sih niatnya, tapi yah yang pacaran bertahun-tahun aja, nikah bisa cerai, apalagi kalau sekali ketemu langsung nikah? I don't know you so well dongs. Atau kalau pacaran dulu, saking lamanya pacaran bertahun-tahun pas nikah keburu bosen kalik ya? Naudzubillah...
Back to topic, Pacar adalah anak dari cinta. Yah habis cinta terbitlah pacar. Kalau udah nembak dalam tahap “neng, akang sayang pisan sama eneng...” Then, dilanjutkan tahap berikutnya dengan kalimat “mau nggak neng jadi pacar akang?” Sangat amat jarang terjadi jika hanya sampai pada tahap pertama, cuma nyatain cinta. Yakali, itu dirasa “buat apa?” Kata temenku buat apa nyatain cinta kalau enggak minta pacaran? Just, saling tahu, eike suka sama ye, ye suka sama eike, nggak guna. Mulut mana sih yang bisa terus sama? Hati aja bisa berubah, apalagi cuma mulut. Ehek. Yah maka dari itu ada kata “pacaran”. Pacaran itu semacam "invisible rope" (?) yang intinya mengikat sementara (kan belum nikah). Kalau diterawang "invisible rope" itu bertuliskan "Dia pacarku tauk, dia milikku.." Eyak.
Aku sendiri nggak tahu dan masih penasaran siapa sih pelopor pacaran? Kenapa mesti namanya pacaran? Kenapa nggak jejodohan kek, sambung tresno kek, benang cinta, atau anak cinta kek. Darimana gitu muncul kata "pacar" dari cinta. Agak-agak maksa mungkin...
Pacar itu bahasa bekennya "calon" suwami atau "calon" bini. Yaa tapi kalau lanjut deng. Soalne dalam pacaran itu banyak halau rintangan. Dari rintangan segedhe batu ginjal sampe segedhe batu apung. Semua batu adalah. Buat para pejuang cinta yang kebal mah, mau rintangan ala ninja warrior sekalipun dijabanin dengan slow down baby. But, it's not easy. Pacaran nggak segampang saat kamu pedekate, nggak segampang saat kamu nembak, dan nggak segampang yang terlihat. Karena saat pacaran sisi asli pasanganmu bakal lebih kelihatan jelas. Aslinya kayak gimana. Kadang, dia bisa berubah seiring berjalannya waktu. Nah, kalau berubahnya baik mah asik, nah kalau buruk, ngenes, galaw, mehek-mehek deh. Yaa begitulah kata temenku (lagi-lagi kata temen)
Lihat gaya pacaran orang jaman sekarang itu lucu-lucu, gokil, dan rada-rada "diluar nalar". Kenapa kubilang diluar nalar? Yah, dari hal yang "sepele" pun bisa jadi "berharga", dari hal "nggak penting" bisa jadi "penting biyanget". Kaya hasil ekskresi manusia yaitu "tai" bisa berubah menjadi hasil tambang yaitu "emas". Misal nih, tiap hari sms "kamu jangan lupa makan loh yang.." atau "kamu jangan lupa mandy loh yangg..." Rada nggak penting sih, tapi itu tetep dilakuin. Itu kan rutinitas manusia ya? Ngapain pakek acara diingetin lagi? Orang makan dan mandy kan kebutuhan. Ya kalau dia nggak mau makan atau mandy yaa itu urusan dia kan? Tubuh-tubuh dia. Badan-badan dia. Mau kelaperan juga perut dia. Mau bau juga bau dia. Yakali, kalau pasangannya pikun kebangetan, sampe lupa dia manusia, butuh makan, butuh mandy, dan butuh tetekbengeknya. Kalau diingetin terus, kok berasa pasangan itu mengidap penyakit "manusia amnesia total dan absolut" (apa pula ini?)
Kadang juga, orang pacaran perhatiannya kelewat "ekstrim". Misal lagi nih, sms tanya "kamu lagi apa yang?" Itu sms adalah hal yang WAJIB dan HARUS dilakukan setiap sejam sekali. Nothing to do kalik. Itu perhatian. Perhatian sih perhatian tapi nggak tiap jam juga bos. Kalau dia kerjaannya cuma tidur, masa iya jawabnya "aku lagi tidur yang" Sejam kemudian, di foward lagi "Aku lagi tidur yang" Begitu seterusnya. Sampe-sampe isi outbox isi smsnya sama semua. Nggak asik bos. Kalau lagi sakit, kadang di sms berkali-kali "ayangku minum obat yah, trus istirahat. Jangan aneh-aneh" Iyaiya, anak balita juga tahu kalau orang sakit ya minum obat, istirahat. Haduh perhatiannya rada-rada gimana gitu yak? (braak)
Oya ada juga orang pacaran yang perhatiannya kelewat freak. Tiap pagi sms “pagi ayangku...” trus siangan “siang ayangkuu...” rada maleman “malem ayangkuuh kuhh...” itu biar apa coba? Toh, sekarang jam juga murah kan? Semua orang punya jam dirumah kan? Ngapain juga sih pake acara ngingetin waktu dari pagi sampe pagi lagi? Kecuali, kalau dirumah nggak ada jam, matahari juga ngumpet nggak kelihatan, baru deh guna sms kaya gitu. Lah itu? Semacam dibatas basa-basi kepepet.
And then, hal wajib lainnya yang harus dilakukan orang pacaran adalah memanggil pasangan dengan panggilan kesayangan. Entah, ayang, sayang, bebeh, honey, babeh, peyang, atau semacamnya. Bahkan ada yang sampe bunda-ayah. Yah, nama sejak lahir diganti mendadak tanpa "bancakan". Khas pasangannya. Kalau yang ini sumpah aku merinding. Dipanggil sayang-sayang gitu. Kata temenku (lagi lagi dan lagi cuma kata temen) "Itu panggilan sayang, cuma pasangan yang boleh panggil gitu, kalau belum ngerasain sih bisa bilang merinding. Nanti kalau udah pacaran, kamu juga bakal kaya gitu" Are you really? Aku jadi semehek-mehek gitu? Naudzubillah bungg... Jangan sampe yaa, doakan saja! :p
The last ah, capek..
Jadi inti dari pokok bahasan fafifu ku dari tadi itu adalah pacar itu kaya ibu kedua.
Jadi inti dari pokok bahasan fafifu ku dari tadi itu adalah pacar itu kaya ibu kedua.
(kabuuur!)
DADAH!
LOL
BalasHapus