Akhirnya setelah sekian lama , cerpen PERDANA ku jadi juga :DD
Wuaahh , moga hasilnya baik yaa buk?? Susah lhoo buatnya, musti gak mandi 3 hari 3 malem #ehh? -,- Gak nyangka juga aku bisa crita gini, terharu aku ~ T__T #halah
Sok atuh dibacaa ~ cekidott cingg !!??
-------------------------------------------------------------------------
Selembar Kain Putih
Siang semakin terik, tetapi tetap saja jalanan itu hanya dilewati segilintir orang. Terlihat begitu sepi, sebuah toko kecil di ujung jalan perempatan itu. Di toko yang berukuran sekitar 4x4 m itu tertata rapi lemari yang hanya berisikan selembar kain putih. Di samping lemari itu terdapat sebuah meja dan kursinya. Disanalah tampak seorang nenek duduk letih menunggu sesuatu. Yah, nenek itu bernama Karmi atau biasa disapa mak Karmi, sang pemilik toko tua yang hanya menjual kain kafan. Entah, sudah berapa lama mak Karmi hanya menunggu, menunggu, dan menunggu di tokonya. Seperti biasa dia berharap akan adanya seseorang yang meninggal dan membeli selembar kain kafannya yang memang dari kemarin tidak laku-laku. Akan tetapi sudah seharian dia menunggu, tetap saja tidak ada tanda-tanda akan datangnya pembeli ke tokonya.
“Yaa Tuhan… kenapa mesti sepi begini??” keluh Mak Karmi dalam hati.
Hari menjelang sore, tetapi selembar kain kafannya itu tetap saja tak terjual. Sampai pada akhirnya suara adzan berkumandang.
“Yah, terpaksa tutup tanpa membawa hasil apa-apa, aku harus makan apa besok?” gumam mak Karmi dalam hati.
Mak Karmi pun membereskan tokonya dan bersiap pulang ke rumah meskipun hanya dengan tangan kosong. Tampak raut wajahnya sangat bersedih. Bagaimana tidak? Mak Karmi adalah seorang janda yang tidak mempunyai anak. Dia terpaksa harus menghidupi dirinya sendiri untuk mencukupi kebutuhannya. Walaupun umurnya tidak lagi bisa dibilang muda karena telah menginjak kepala enam, Mak Karmi tetap saja bekerja keras dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Sebenarnya dia memiliki beberapa saudara yang bisa saja dengan mudah merawatnya dihari tuanya, tetapi dengan tegas Mak Karmi selalu menolak saat saudara-saudaranya meminta dia untuk berhenti bekerja dan tinggal dirumah mereka.
Seperti saat hari itu. Saat saudara-saudaranya berkunjung ke rumah Mak Karmi.
“Mak, mending mak ikut saya saja. Mak ini udah tua janganlah bekerja lagi, toh kita saudara-saudaramu masih bisa merawatmu mak” ujar seorang saudaranya.
“Kanapa aku harus ikut kalian? Aku masih bisa kok menghidupi diriku sendiri”
“Mak ini kalo dibilangin kok ngenyel sih? Mak ini kakak tertua kita, udah terlalu tua buat bekerja. Nanti kalau ada apa-apa sama mak kita gak tanggung lho” tegas seorang saudaranya lagi.
“DEGG!!” suara jantung Mak Karmi berdegup kencang.
“Apa maksudmu? Kamu mendoakan aku ada apa-apa? Jangan bicara aneh-aneh yaa kamu ini. Walau tua begini aku masih kuat dan bisa kok ngurus diriku sendiri” kata Mak Karmi dengan nada yang sedikit naik.
“Bukan begitu mak, kita saudara-saudaramu ini hanya khawatir dengan keadaanmu kalau sendirian begitu, apalagi mesti bekerja sendirian juga” kata seorang saudaranya menjelaskan lagi.
“Sudahlah, tidak usah berlebihan. Selama aku masih bisa bekerja, kenapa tidak aku lakukan? Aku tidak ingin ribut lagi hanya gara-gara masalah begini. Aku berterima kasih karena kalian sudah peduli denganku, tapi aku ingin berusaha sendiri. Toh aku juga masih kuat, pekerjaanku juga cuma menjual kain kafan, jadi tenang saja” kata Mak Karmi.
“Tapi mak…”
Belum selesai saudaranya berbicara, Mak Karmi langsung menyela.
“Pokoknya aku tidak akan ikut kalian, aku tidak ingin merepotkan siapapun walau saat hari tuaku sekalipun!” bentak Mak Karmi kepada saudara-saudaranya yang ingin merawatnya.
Kalau sudah seperti itu, mereka semua tidak dapat berbuat apa-apa karena memang sifat Mak Karmi yang keras sulit dilawan.
∞∞∞
Matahari mulai menampakkan wujudnya lagi pagi ini. Jam masih menunjukkan pukul 09.00 WIB. Mak Karmi pun sudah bersiap berangkat menuju tempat dimana dia selalu menunggu dan berharap akan adanya pembeli.
“Semoga saja, hari ini laris” doa nenek tua itu yang tanpa sadar mengharapkan seseorang meninggal dan membeli kain kafannya.
Perjalanan dia menuju ke toko kecilnya memang tidak begitu jauh, hanya perlu berjalan kaki sekitar 15 menit. Tapi perjalanan itu terasa sangat lama dan melelahkan karena Mak Karmi belum mengisi perutnya sejak kemarin. Dia tidak dapat membeli sekantung beras ataupun sebungkus nasi karena selembar kain kafannya dari kemarin sama sekali belum terjual. Tersendat-sendat namun tetap kuat itulah sosok Mak Karmi. Setelah sampai di toko, dia duduk di kursi seperti biasanya dan tentunya masih tetap menunggu. Hanya tersisa selembar kain kafan saja. Dia hanya mengharapkan satu kain kafannya itu terjual pagi ini agar dia bisa membeli sebungkus nasi sebagai pengganjal perutnya.
Pagi berlalu, berganti siang. Terlihat dari kejauhan sebuah mobil mendekat ke arah toko Mak Karmi. Senyum manisnya mulai terlihat diwajah Mak Karmi. Sudah lama rasanya dia tidak berwajah seperti itu. Pintu mobil terbuka dan keluarlah lelaki berbaju seperti sopir yang lalu membukakan pintu mobil belakang, dimana sang atasan berada. Seorang lelaki tinggi, gagah, dan berjas rapi keluar. Dia mulai mendekati Mak Karmi yang masih saja menebar senyum kegembiraan.
“Akhirnya ada pembeli…” seru Mak Karmi dalam hati.
“Ada perlu apa Pak?” tanya Mak Karmi segera setelah lelaki itu mendekat.
“Disini menjual kain kafan yaa Bu?” tanya lelaki itu.
“Iyaa, Pak. Bapak mau beli?”
“Iyaa Bu… Tapi bukan buat saya mestinya. Buat anak saya yang meninggal karena kecelakaan pagi tadi”
“Ohh, baik Pak. Mau beli berapa meter yaa?”
“Uhm, kisaran 15 meter, Bu. Ada?”
“Waduh, kok gedhe sekali sih Pak. Apa gak kelebihan itu?”
“Lebih baik kelebihan Bu, daripada saya harus bolak-balik beli kan ribet”
Mak Karmi sepertinya mengerti pikiran bapak ini. Dia seorang pengusaha yang tidak ingin membuang waktunya hanya untuk membeli selembar kain kafan saja. Tetapi, apakah kain kafannya cukup untuk dibeli bapak itu? Mak Karmi hanya tinggal memiliki selembar kain kafan saja di lemarinya. Selembar kain kafan yang sudah beberapa hari ini tidak laku-laku. Dengan sigap, Mak Karmi membuka lemari dan mengambil selembar kain kafannya itu. Kain kafannya diiukur dan dilipat menjadi satu.
“Astagaa…. Kainnya kurang semester saja” batin Mak Karmi.
“Anuu… pak, ini kainnya tinggal 14 meter, bagaimana? Saya rasa cukup-cukup saja Pak untuk seorang anak” ujar Mak Karmi.
“Aduh, Bu. Kalau tidak ada 15 meter yasudah gak jadi…” kata bapak itu.
“Lhah kok gitu Pak? Kain kafan disini bagus lhoo… Kalau kurang bapak tinggal berjalan ke utara, sekitar 200 meter. Disana ada toko kain kafan juga, tapi yaa mbok kain ini jadi dibeli Pak. Saya beri dengan harga diskon”
“Maaf Bu, saya gak mau repo-repot. Kalau disini gak ada kain kafan 15 meter yaa saya cari yang lain saja yang beneran ada 15 meter. Maaf, permisi…”
Tanpa memperdulikan Mak Karmi yang membujuknya, bapak itu pun masuk ke mobilnya dan mulai berlalu.
“Cobaan apa ini yaa Tuhan? Kalau ada yang beli, kenapa harus kurang ukuran kainnya?” keluh Mak Karmi.
Wajah tuanya tampak lebih tua sekarang karena kesedihannya. Niatnya untuk dapat segera makan dengan uang dari penjualan kain kafannya pun pupus. Betapa sedih dan sakit hatinya Mak Karmi karena dia tidak juga segera dapat menjual kain kafannya yang hanya tinggal selembar saja.
Setelah itu, sampai larut malam pun tidak ada lagi pembeli yang mampir ke toko kecil Mak Karmi itu. Lagi-lagi Mak Karmi harus menahan lapar. Lagi-lagi pula Mak Karmi harus pulang dengan tangan kosong, tanpa sepeser uang pun di kantongnya. Lelah, lapar, dan sedih bercampur menjadi satu dalam hatinya. Ada juga sedikit rasa sesal dan marah.
“Kenapa sih tadi itu kainnya mesti kurang ukurannya?” gerutu Mak Karmi berkali-kali dalam perjalanannya pulang ke rumah.
Malam ini, tetap tidak ada makan malam dengan sepiring nasi ataupun makanan lainnya. Hanya secangkir teh tanpa gula, yang berusaha menenangkan perutnya yang tidak ada habisnya berbunyi bak kendang ditabuh. Di teras rumahnya, yang memang tidak terlalu besar, sambil memandang langit Mak Karmi berbisik “Yaa Tuhan, kumohon… Aku sangat lapar”. Dan tanpa terasa air mata Mak Karmi menetes. Malam itu begitu sunyi….
∞∞∞
“Kali ini harus laku!” ucap Mak Karmi dengan semangat.
“Aku harus dapat membeli makanan untuk makan malam hari ini” ujarnya lagi.
Seperti biasa, dengan berjalan perlahan Mak Karmi menuju ke tempat dia bekerja. Yaa, toko tua di ujung perempatan jalan itu. Tetapi, hingga matahari berada tepat diatas ubun-ubun kepala, belum ada tanda kedatangan pembeli.
“Huft, aku mulai lelah” kata Mak Karmi sesaat sampai datangnya sebuah motor yang berhenti di depan tokonya.
“Bu, apa disini jual alat pemakaman?” tanya seorang pemuda dengan tergesa setelah turun dari motornya itu.
“Iyaa dek, disini jual kain kafan. Mau beli berapa meter?”
“Haa? Kain kafan saja bu? Apa gak ada bunga atau batu nisan gitu?’
“Yaa ampun dek, disini cuma jual kain kafan saja. Mau beli berapa meter?” tanya Mak Karmi mulai tak sabar.
“Ah, maaf bu. Saya udah beli kain kafan buat pemakaman adik saya. Sekarang saya cuma butuh bunga dan batu nisan. Permisi…”
Tanpa pikir panjang lagi, pemuda itu berlalu. Yang tersisa hanya Mak Karmi yang semakin muram karena dia gagal lagi menjual selembar kain kafannya.
“Yaa Tuhan, aku butuh seseorang atau siapapun yang akan memakai kain kafanku ini. Jangan Engkau persulit hidupku seperti ini. Tuhan, haruskah aku mengemis? Haruskah aku mengemis demi mendapatkan sesuap nasi?” keluh Mak Karmi yang mulai putus asa.
“Malam ini aku harus makan apa? Perutku ini sudah tidak kuat lagi Tuhan… Aku tidak tahan lagi…” batin Mak Karmi.
Sungguh, Mak Karmi meneteskan air matanya lagi hari itu. Nenek yang telah berusaha untuk tetap tegar itu, akhirnya benar-benar berputus asa.
∞∞∞
Waktu terus berlalu. Dan tiga hari setelah kejadian itu, akhirnya sesuai dengan keinginan Mak Karmi, ada juga seseorang yang memakai selembar kain kafannya. Siapa? Mak Karmi. Dialah yang akhirnya memakai selembar kain kafannya yang selama ini berusaha dia jual sendiri. Tetangga menemukan Mak Karmi tergeletak dirumahnya dengan keadaan yang menyedihkan, dengan tangan memegang perutnya. Mak Karmi diduga telah mati kelaparan, karena dalam usianya yang senja, dia tidak makan lebih dari lima hari. Saudara-saudaranya merasa sangat menyesal karena membiarkan wanita tua itu mati kelaparan. Tetapi semua itu telah berakhir, perjuangan Mak Karmi untuk menjual selembar kain kafannya tidak akan lagi ada karena selembar kain putih itu telah dia pakai sendiri untuk pemakamannya. Saudara-saudaranya datang untuk menguburkan dan mendoakan agar Mak Karmi tidak lagi mengalami penderitaan yang sama di dalam kuburnya nanti. Dan semoga tidak akan ada lagi Mak Karmi Mak Karmi lain yang mengalami nasib yang sama dengan Mak Karmi, si nenek penjual kain kafan.
---------------------selesai---------------------
HAHAHHHHAAAAAAAA ~
cuma bisa ngakak tok ,
daaaaadaaahh ~ :D/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar