Rabu, 06 Desember 2017

Pantulan Wajah Ibu di Jendela Bus

Sewaktu aku masih kecil, aku ingat. Kala itu musim hujan. Tanah basah dan bau hujan semerbak ke seluruh jalanan. Aku seperti biasa. Dilarang main air hujan. Mungkin itu salah satu penyebab kenapa aku suka hujan. Ada hasrat si aku kecil yang belum terpenuhi sampai hari ini yaitu bermain hujan dengan bebas. Si mbok, pengasuh yang sudah seperti keluargaku, selalu melarang aku bermain hujan.


Pernah suatu ketika, saat hujan di siang hari, saat si mbok ngelonin untuk tidur siang dan beliau tidur lelap terlebih dahulu, aku menyelinap keluar rumah. Tidak benar-benar diluar. Hanya sampai teras saja. Aku melihat teman-temanku bermain hujan. Lalu kenapa aku tidak ikut bermain hujan? Simple. Murka simbok lebih horor ketimbang petir sewaktu hujan deras. Selain itu, seingatku waktu itu aku adalah bocah yang lemah. Sering bolak-balik ketemu dokter.

Kala hujan, aku selalu hanya menikmatinya dibalik jendela rumah. Dingin dan baunya hanya sebatas itu saja. Tidak benar-benar dekat. Sama seperti hal-hal diwaktu itu yang tidak benar-benar dekat, atau malah aku tidak merasakan kehadirannya sama sekali meski dekatnya tak bersekat. Ingatanku hanya sebatas panca indera penglihatan dan pendengaran. Sebatas berisik oleh derasnya air hujan yang jatuh ke tanah bercampur dengan kebisingan didalam rumah. Lalu suara Ibu memecah keasyikanku. Ibu mengajakku pergi. "Berlibur," katanya.

"Dingin," kataku sembari berjalan masuk ke bus. "Nggak apa-apa, di bus cuma sebentar," jawab ibuku.

Hujan masih lebat. Tetes demi tetes berbekas embun di kaca jendela bus. Sebagai anak kecil, aku mengisi kebosanan di bus dengan menggambar kaca jendela bus yang berembun itu. Bermodal jari kecilku, aku membentuk gambar tidak jelas di jendela. Hapus. Gambar lagi. Sampai terlihat pantulan wajah ibu di jendela bus. Terlihat jelas di sela-sela gambar amburadul-ku. Hingga sampai saat ini sulit untukku tak mengingat pantulan seperti apa yang terlihat.

Semakin dingin. Apa karena hujan yang kian lebat atau AC di bus sebagai "barang baru" yang dirasa bagi kulit tubuhku. Atau malah karena pantulan wajah ibu kala itu?

Entah.

Hujan kala itu masih terasa sama dengan hujan hari ini. Atau hari-hari lainnya nanti. Yang kutahu. Hanya ada sedikit perbedaan. Sekat itu kian nyata. Sama seperti antara aku dan hujan diluar sana, terbatas jendela rumah. Aku hanya sebatas menikmatinya dengan indera  penglihatan dan pendengaran. Lalu tak benar-benar merasakan sensasi menyatunya tetesan air hujan masuk ke dalam pori-pori tubuhku. 

Mungkin rasanya hanya di awang-awang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar