Malam makin larut. Dingin pun menusuk sampai tulang-tulangku. Tapi udara yang dingin berbanding terbalik dengan rasa kantukku. Rasanya sulit untuk memejamkan mataku malam ini. Semua hal berkecamuk di pikiranku. Aku sendiri bingung. “Atau mungkin ini yang namanya virus galau? Haish... pikiran bodoh darimana ini?” pikirku. Mungkin aku terlihat seperti seoonggok patung yang nemplok di jendela. Diam. Hening. Tanpa kata. Alias melamun.
Pikiranku menerawang kembali di pagi itu. Saat perjalanan ke kampus, di saat matahari mulai terik. Di perempatan jalan, aku melihat seorang anak (mungkin seumuran SD) lalu-lalang di jalanan. Hanya dengan bermodalkan gitar kecil dan nyanyian seadanya, dia mulai mendekati setiap kaca mobil atau kendaraan yang berhenti. Miris bercampur heran. Ya, bagaimana mungkin seorang anak pada jam segini berkeliaran di jalan, di saat anak-anak seusianya belajar di sekolah? Dimana orangtuanya? Apa mereka tega melihat anaknya seperti itu? Atau mungkin memang orangtuanya sudah tak lagi peduli? Pertanyaan demi pertanyaan muncul dipikiranku. Sampai terdengar suara sayu menyadarkanku.
“Mbak, minta mbak...” Segera kubuka kantong celanaku. “Haduh, aku cuma punya seribu rupiah ini. Yasudahlah” batinku. Kuberikan uang seribu rupiah pada anak itu. Dan entah kenapa setelah dia menerimanya, wajahnya langsung sumringah. “Terima kasih banyak, mbak” katanya bersemangat. “Ha? Itu cuma seribu rupiah loh dek, apa pantas segitu senengnya?” batinku.
Sepanjang perjalanan aku terus memikirkannya. Hanya seribu rupiah, apa sebanding dengan panasnya terik matahari? Apa sebanding dengan masa bermain dan belajar di usianya yang dia korbankan? Terlepas dari keinginannya untuk menyambung hidup atau apapun itu, dia hanyalah anak-anak. Ya, anak-anak yang seharusnya masih tetap menjadi seorang anak.
Malam sunyi semakin terasa. Aku mulai memikirkan kenapa hanya dengan seribu rupiah seseorang bisa merasa bahagia. Ketika disaat yang sama, di lain pihak banyak orang yang berusaha dan berebut untuk mendapatkan uang yang benilai lebih tinggi. Aku terus berpikir. Apa mungkin uang yang bernilai kecil dimataku, bisa menjadi nilai yang lebih besar untuk sebagian orang lain?
Mungkin, aku yang baru lulus SMA ini, hanya mempunyai pengalaman hidup yang sedikit. Tapi, ketika melihat orang-orang di sekitarku, baru aku tahu bahwa hal yang aku anggap itu sepele bisa menjadi nilai “lebih” untuk sebagian orang disana. Membayangkan tentang bagaimana rasanya jika aku sendiri yang menjadi orang yang masih membutuhkan hal “sepele” itu. Pasti sangat memilukan, bukan?
Entah. Semilir angin malam membawaku pada pertanyaan besar dalam hidupku, yaah, tentang kontribusi apa yang bisa aku berikan untuk sebagian orang-orang itu? Orang yang masih membutuhkan selembar demi selembar uang kecil itu. Kontribusi yang terkecil pun, pasti sangat bermakna bagi mereka. Mungkin hal yang terpenting bukan besar kecilnya kontribusi kita pada mereka, tapi seberapa besar kepedulian kita untuk mau menyumbangkan sedikit apa yang kita miliki pada mereka. Mereka yang masih terus berjuang untuk harga yang kecil. Bahkan jika itu harga dari seribu rupiah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar