Haii (?)
Sudah lama ya, aku tak mencoret-coret blog ini. Kangen ya? Merasa kehilangan ya? (emot unyuh) Sori yah, bukan apa-apa sih, biasa. Yah rutinitas biaaaaaaaaasaaaaaaaa ituuu lohhhhhhhhh :| (tak ada penjelasan lagi)
Ini Februari. Hah. Cepet yaaa? Bawaannya masih taun baruuuuaannn ajaaa (?) Alah ngarep deng. Maklum, setiap hari hidupku habis cuma buat berangkat pagi, sekolah, latihan soal, les, belajar, pagi lagi, sekolah lagi, latihan soal lagi, berputar begitu terus sampai kiamat. Eh bukan, cukup sampai tiga bulanan lagi. Yah cukup disitu aja deh. Boso jowone “wes blenek”.
Mau tahu rasanya ? Rasanya itu kaya naik bianglala dari bawah, keatas, ke bawah lagi, keatas lagi, muuuuteeeeerrr terus nggak ada abisnya (boso jowo bekene sih “uripku iki lagi dienthul cah”) Sampai pusing, mual-mual, muntah, juga mesti tetep lanjut.
Kalau ada yang bilang hidup ini pilihan, itu salah besar bung! Adakalanya dalam hidup ini, kita sulit atau bahkan tidak dapat memilih, karena suatu “keterbatasan”. Yah itu yang lagi ku alamin. Pengennya ngomong sama om yang muterin bianglala “om, brenti om. Ini yang naik udah enek, mual, pusing” But, I can’t it. Bianglala itu ibarat jalan sendiri tanpa pengatur (manusia), tanpa rem, dan mesinnya itu nyaris dol (basa indonesianya apaya?) Jadi, yaa muteeerrr terussss. Sampai batas dimana dia akan diam. Seperti hukum fisika bukan? Benda yang bergerak terus-menerus, lama-kelamaan akan diam juga (seingetku ada hukum fisika yang mengatakan begitu, kalau salah, ya maklumlah bukan anak alam). Kalau dalam sosiologi, mungkin lebih dikenal dengan teori siklus. Manusia akan mengalami perubahan kehidupan yang berputar terus-menerus. Hah agak maksa mungkin. Ini jadi bawa-bawa pelajaran kan? Bebek!
Yang kumaksud dari kata “diam” tadi, mungkin berarti “sudah saatnya diam dan melihat hasil”. Apa kita akan tetap pusing, mual, dan muntah? Bahkan disaat bianglala itu sudah berhenti. Atau kita akan keluar dengan rasa bahagia dan puas, karena kita telah mampu bertahan didalam bianglala itu. Faktanya, saat kita baru pertama kali naik bianglala itu, kita akan pusing, mual, atau semacamnya. Bahkan kita serasa ingin mati saking nggak kuatnya. Tapi setelah kita berputar terus-menerus dan mulai membiasakan diri dengan putaran bianglala itu, kita akan terbiasa. Menganggap itu hal yang sudah biasa. Toh, berputar dalam bianglala, nggak ada buruknya juga. Justru kita akan belajar membiasakan diri pada hal yang baru kita coba, naik-turun (?) muter-muter (?) kita juga bisa belajar untuk perlahan-lahan naik lebih tinggi, dari bawah lalu berjalan keatas, dan saat berada diatas pun, kita bisa menikmati pemandangan di sekeliling kita dengan jelas, yang kadang nggak bisa kita lihat saat kita berada dibawah tentunya. so nicee bukan?
Sama seperti perjalananku dan teman-temanku seangkatan kali ini. Bak naik bianglala, kita sedang belajar membiasakan diri dan menikmati. Karena aku tahu, sesungguhnya waktu tak akan pernah kembali ke masa ini dan pasti suatu saat aku akan merindukan masa ini. Rasa pusing, mual, lelah dan semacamnya pasti bisa ditahan. Pasti. Karena kita manusia. Karena kita kuat. Karena sampai pada akhirnya bianglala ini akan diam dan membiarkan kami turun dengan perasaan bahagia dan puas. Ini bagian dari proses... Proses yang memang harus dilewati agar kami bisa sampai finish. Proses yang mengajarkan kami tentang pertemanan, kerja keras, usaha, rasa lelah, rasa bosan, kebersamaan, kebahagiaan dan sebagainya. Berbagai emosi manusia bercampur disini. Sampai suatu saat, hari dimana bianglala ini akan berhenti. Kami akan keluar dengan senyum kebahagiaan. Jadi, nikmati aja! Iya kan? :D
stay tune! and see you guys :$

eh? bianglala ala sekaten? dirimu gak ngajak aku?
BalasHapus:'(